HEADLINE: Bahaya Stunting dan Ancaman Lost Generation, Indonesia Harus Berbuat Apa?

Berita Jabar – Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis bisa mengakibatkan bonus demografi yang terjadi di Indonesia sia-sia. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyebutkan hal ini sembari menegaskan bahwa selama ini stunting tidak disadari sebagai masalah serius.

Padahal, Indonesia saat ini sudah mulai masuk masa bonus demografi yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada 2030. “Jadi persiapannya harus dari sekarang. Kalau kita tidak hati-hati, maka bonus demografi ini jadinya tidak menguntungkan buat kita kalau kita tidak serius soal stunting,” ujar Bambang saat diskusi dengan awak media bertajuk Cegah Stunting, lnvestasi Bersama untuk Masa Depan Anak Bangsa di Kantor Pusat Bappenas, Jakarta.

Pada 2030, menurut Bambang, angkatan usia produktif (15-64 tahun) diprediksi mencapai 68 persen dari total populasi dan angkatan tua (65 ke atas) sekitar 9 persen. Sementara itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan 37,2 persen (9 juta balita) di Indonesia pada 2013 mengalami stunting. Artinya satu dari tiga balita di Indonesia menderita stunting.

Berdasarkan Laporan Human Development Report 2016, IPM Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014 dari 188 negara, sedangkan Tingkat Kecerdasan anak Indonesia dalam bidang membaca, matematika, dan sains berada di posisi 64 dari 65 negara (OECD PISA, 2012), dan anak Indonesia tertinggal jauh dari anak Singapura (posisi 2), Vietnam (posisi 17), Thailand (posisi 50) dan Malaysia (posisi 52).

“Target jangka panjang kita ya mengurangi stunting. Kita berharap angka sepertiga itu harus turun drastis dan tergantung dari langkah yang kita ambil. Karena itu, harus terintegrasi supaya turunnya cepat,” kata Bambang.

 

Please follow and like us:

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *