Anti Tradisi, Kini Harajuku Panganku

Kamis,30 November 2017 WIB   /   0 Comment



Harianjabar.com - Lifestyle, Walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke Jepang seperti saya, istilah Harajuku bagi banyak orang pasti tidak asing, terutama yang sedikitnya tahu soal fashion.

Di mulai saat perhelatan Olimpiade Tokyo 1964, Jepang membuka lebar-lebar infiltrasi mode dan pengaruh asing dengan membiarkan anak-anak muda mereka mabuk lepas diri demi ekspresi.

Saya bukan pakar mode, apalagi punya nyali bergaya harjuku. Memadu-madankan blus atasan dengan rok atau celana panjang saja masih berpegang pada pakem kuno. Dilansir dari Kompas.com

Apalagi memberi bordiran bunga di atas bahan kotak-kotak seperti yang sedang viral di banyak etalase.

Tapi, inti tulisan ini sebenarnya tentu bukan soal isi lemari baju. Melainkan tren pangan yang mengisi perut manusia.

Baru saja saya pulang dari Lampung, memberi materi seminar yang tadinya saya pikir pencerahan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, apa yang saya bahas di sana malah lebih mirip ajakan kembali ke ajaran lawas.

Mengapa? Karena makna pencerahan mestinya adalah munculnya visi baru – seperti layaknya yang terjadi di awal abad ke 18, saat orang diberi terang ilmu tentang asal muasal penyakit, jika sebelumnya dikira akibat kutukan para dewa.

Mengajak para ibu kembali menyusui bayi-bayinya hingga umur 2 tahun, mendorong orang kembali makan sayur dan buah dengan cara yang benar - bukankah hal yang usang dan basi didengar berulang kali?

Bulan lalu, saat saya ada di Malang, pameran pangan harajuku juga tidak kalah hebohnya. Apel yang secara nalar sehat dikunyah begitu saja muncul dengan balutan pastri gaya Jerman-Austria yang disebut ‘strudel’. Tentu dengan rasa Melayu.

Tidak mau kalah dengan ‘produk lokal’, gerai waralaba ayam goreng Amerika pun mencelup ayam renyahnya di lelehan keju olahan (bukan keju sesungguhnya) dan balutan cokelat.

Komentar