CIANJUR – Wakil Ketua MPR Syarief Hasan meminta kepada pihak-pihak agar tidak sekali-kali meragukan jiwa pancasila yang dimiliki para santiwan-santriwati yang mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Sebab, selama ini pesantren dianggap sebagai garda terdepan penjaga pancasila.

“Saya perlu tegaskan kepada pihak-pihak yang masih meragukan jiwa pancasila para santriwan dan santriwati maka merekalah yang sebenarnya yang tidak pancasilais,” kata Syarief Hasan saat acara ‘Sosialisasi Empat Pilar’ di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Khodijiyyah Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2020).

Dalam acara tersebut turut dihadiri Pengasuh Ponpes Nurul Hidayah Al Khodijiyyah KH Deni Hamdani, Ketua MUI Cianjur, Jajaran Pemkab Cianjur, puluhan tokoh masyarakat dan ratusan santri, serta puluhan masyarakat sekitar. 

Syarief menceritakan, sejarah berdirinya republik Indonesia dan kelahiran pancasila didukung penuh oleh sebagian besar ulama. Jadi, pancasila itu sudah final dan tidak boleh diubah-ubah lagi.

“Coba banyangkan pancasila ini yang ditetapkan pada 17 Agustus 1945 adalah pancasila sebenarnya yang kita anut, kita sadari, kita ikuti, adalah final bagi kita,” tegasnya.

Jadi, lanjut dia, sebagai umat Islam, pihaknya menghormati dan memegang penuh bahwa pancasila yang lima sila, yang menjadi amanah dan mengantar bangsa kedepan labih baik, harus tetap dijaga dan dipertahankan dengan titik darah penghabisan.

“Makanya, tidak tepat jika kita mengatakan, ada yang mempertentangkan pancasila dengan agama Islam. nah, mereka itulah orang-orang yang tidak pancasilais,” terangnya seraya diiringi tepuk tangan ratusan santri. 

Sesuai dengan komitmen yang dibangun oleh panitia 9, ketuhanan yang maha esa merupakan alinea yang pertama. Sementara, konsep awal dari pancasila itu adalah di alinea yang ke lima atau yang terakhir.

“Sekali lagi kita tegaskan, berkat perjuangan umat Islam, tokoh-tokoh umat Islam, salah satunya pendiri NU KH Hasyim Asyari, maka alhamdulillah, ketuhanan yang maha esa merupakan sila yang pertama dalam pancasila,” katanya.

Menurutnya, jika menilik ajaran yang disampaikan di pondok pesantren dan benar-benar menjalankan seperti yang sudah diajarkan seperti toleransi, saling tolong menolong, saling menghormati, maka apa yang sudah disampaikan di Ponpes adalah bagian kecil dari pancasila.

“Jadi terus terang saja, kalau kita mau belajar pancasila, ya kita pergi saja ke pondok pesantren terlebih dahulu. Karena semuanya sudah diaplikasikan di sana,” kata politisi dari Partai Demokrat tersebut.

Atas dasar itu juga, pihaknya tidak percaya jika ada pihak yang mengatakan katanya pondok pesantren adalah ekstrimis. Menurutnya, kalau ada pihak-pihak yang mengatakan seperrti itu, sebenarnya menunjuk dirinya. “Satu jari menunjuk ke sana, sebanrnya 4 jari menunjuk ke dirinya sendiri,” ungkapnya.

“Kedepan kalau kita mengamalkan bersama-sama pancasila ini, mengamalkan empat pilar MPR ini, insya allah kedepan kita akan menghantarkan bangsa kita kedepan yang lebih baik,” pungkasnya.

admin harianjabar

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat