Berita kesehatan– Penelitian terbaru menunjukkan kegemaran merokok elektrik atau vaping dapat meningkatkan risiko tertular COVID-19, setidaknya pada remaja dan orang dewasa muda.

Para peneliti menganalisis informasi dari lebih dari 4.300 remaja AS dan dewasa muda, usia 13 hingga 24 tahun, yang menyelesaikan survei online pada awal Mei, menurut penelitian yang diterbitkan 11 Agustus 2020 di Journal of AdolescentHealth. Peserta menjawab pertanyaan tentang penggunaan rokok dan e-rokok, serta apakah mereka pernah mengalami gejala COVID-19, menjalani pengujian, atau didiagnosis penyakit dari hasil tes positif.

Di antara mereka yang dites COVID-19, pengguna rokok elektrik lima kali lebih mungkin didiagnosis terpapar virus Corona baru tersebut. Dan mereka yang menggunakan rokok elektrik dan rokok tradisional (pengguna ganda) tujuh kali lebih mungkin untuk didiagnosis positif COVID-19, dibandingkan kaum muda yang tidak menggunakan rokok elektrik atau rokok tradisional.

Selain itu, pengguna ganda hampir lima kali lebih mungkin melaporkan mengalami gejala COVID-19 pada saat survei, terlepas dari apakah mereka diuji, dibandingkan dengan non-pengguna.

“Kaum muda mungkin percaya usia mereka melindunginya dari tertular virus atau bahwa mereka tidak akan mengalami gejala COVID-19,” kata penulis utama studi Shivani Mathur Gaiha, seorang sarjana postdoctoral di Stanford University School of Medicine, dalam sebuah pernyataan yang dilansir LiveScience.

Tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan vape, atau menggunakan rokok dan e-rokok menghadapi peningkatan risiko. “Ini bukan hanya peningkatan kecil dalam risikonya, tetapi juga besar,” tambah Gaiha.

Para peneliti tidak tahu apa yang menyebabkan hubungan tersebut, tapi mereka memiliki sejumlah hipotesis. Baik merokok dan vaping diketahui merusak paru-paru dan memengaruhi sistem kekebalan, yang dapat meningkatkan risiko pengembangan infeksi COVID-19 setelah terpapar virus, menurut NBC.

Selain itu, perilaku seperti berulang kali menyentuh wajah dan mulut saat menggunakan rokok elektrik, atau berbagi produk vaping, juga dapat meningkatkan risiko infeksi. Meskipun sekitar setengah dari peserta mengatakan mereka berlindung di tempat.

“Itu tidak berarti mereka tidak berada di halaman belakang dengan seorang teman berbagi produk vaping mereka,” ujar penulis senior studi Bonnie Halpern-Felsher, seorang profesor Pediatri di Universitas Stanford Fakultas Kedokteran, tulis CNN.

Namun, penelitian tersebut hanya menemukan hubungan antara vaping dan infeksi COVID-19. Riset juga tidak dapat membuktikan bahwa vaping menyebabkan penyakit tersebut. Tetapi penelitian memperhitungkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi risiko infeksi peserta, seperti kepatuhan mereka yang dilaporkan sendiri terhadap perintah lockdown dan tingkat diagnosis COVID-19 di negara bagian, umur, jenis kelamin, ras/etnis, indeks massa tubuh, dan status sosial ekonomi.

Para peneliti berharap hasil mereka tidak hanya memberikan peringatan kepada remaja dan dewasa muda tentang risiko vaping, tetapi juga mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk lebih memperketat peraturan tentang e-rokok dan bagaimana produk dijual kepada kaum muda.

CNN melaporkan, baru-baru ini anggota parlemen mengirim surat kepada Komisaris FDA, Dr Stephen Hahn untuk mendesak membersihkan pasar rokok elektrik selama pandemik COVID-19. Surat itu mengutip penelitian saat ini sebagai bukti bahwa vaping adalah faktor risiko COVID-19.

admin harianjabar

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat