Harianjabar.com – Badan Meterologi Klimatologi Geofisika (BMKG), Citeko, Cisarua, Kabupaten Bogor sebut fenomena cuaca panas yang terjadi selama empat hari belakangan tidak berpotensi kekeringan.

Kepala Stasiun Meterologi, Asep Firman Ilahi mengatakan bahwa curah hujan di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor masih tinggi sehingga diharapkan kekeringan tidak terjadi.

“Saat ini di bulan November, peluang hujan masih tinggi. Fenomena atmosfir panas dan sumuk (pengap) yang beberapa hari melanda wilayah Bogor tidak akan menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih,” ujarnya, Senin (16/11/2020).
Lebih lanjut, Firman memprediksi apabila cuaca panas akan berlanjut hingga akhir November, maka dipastikan persediaan air masih tetap terjaga.

“Curah hujan tinggi saat ini masih bisa mengisi embung/waduk dan persawahan tadah hujan. Sehingga dapat dipastikan cuaca panas seperti ini tidak akan menyebabkan kekeringan hidrologis,” ungkapnya.

Fenomena ini bukan hanya dirasakan masyarakat kota Bogor tetapi masyarakat di banyak kota di Pulau Jawa, Bali, NTB dann NTT juga merasakan hal serupa.

Firman Ilahi, menjelaskan bahwa suhu udara panas yang terjadi disebabkan oleh gerak semu matahari.

“Suhu udara maksimum dalam kurun waktu tersebut di beberapa kota di pulau Jawa, Bali dan NTB tercatat antara 34-36 °C, sementara di Bogor tercatat 33-35 °C dan dengan kelembaban relatif (Relatif Humidity, RH) udara antara 45 – 55 %,” ujarnya.

“Di Puncak Bogor sendiri suhu udara Maksimum tercatat 29.1 °C pada tanggal 13 November lalu dengan RH 67%. Fenomena atmosfer ini disebabkan oleh Gerak Semu Matahari,” tambahnya.

Lebih lanjut, Firman menjelaskan bahwa gerak semu matahari adalah gerakan matahari di Lintang di 23° Utara dan 23° Selatan.

Sumber : TRIBUNNEWSBOGOR.COM (https://bogor.tribunnews.com/amp/2020/11/16/bmkg-panas-ekstrim-di-bogor-tidak-berpotensi-kekeringan)

admin harianjabar

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat