April 21, 2021

Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Tertukarnya Jenazah Pasien Covid-19 di Bogor, Pengakuan RS dan Evaluasi Bima Arya

4 min read

Harianjabar.com – Kasus tertukarnya jenazah pasien Covid-19 yang dialami keluarga DF menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan rumah sakit rujukan Covid-19 di Kota Bogor, Jawa Barat.

DF menceritakan, kejadian pahit itu ia alami ketika jenazah sang ibu berinisial WT, yang meninggal akibat Covid-19, tertukar oleh jenazah seorang pria.Warga asal Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor itu mengatakan, peristiwa tersebut terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor, Rabu (30/12/2020), saat keluarga akan membawa jenazah WT untuk dikebumikan.

DF mengatakan, awalnya pihak keluarga dilarang untuk melihat jenazah WT selama proses pemulasaran di rumah sakit. Keluarga pun pasrah dan harus menunggu selama 10 jam hingga peti jenazah siap dimasukkan ke dalam mobil ambulans.DF mengaku, keluarga terus mendesak agar pihak rumah sakit mengizinkan jenazah WT untuk dilihat terakhir kalinya. Hal itu sekaligus untuk memastikan apakah jenazah yang ada di dalam peti adalah keluarganya atau bukan.

Namun setelah mendapat izin, alangkah kagetnya ternyata jenazah yang berada di dalam peti bukanlah almarhum ibunya.Sontak, peristiwa tersebut membuat keluarga DF syok dan meradang dengan kelalaian rumah sakit.”Keluarga mau lihat, tapi nggak boleh alasan ini-itu, ini-itu. Kita nggak mau, kita tetap maksa. Nggak tahu kenapa hati ini nggak enak. Pas dibuka itu ternyata jenazah cowok dan itu bukan keluarga dari kita,” ucap DF, saat dikonfirmasi, Senin (4/1/2021).

“Saya tanya ke petugas, kamu bisa lihat nggak ini ada kumisnya. Sampai keluarga marah-marah. Sampai semua keluarga datang,” sambung DF.

DF menceritakan, usai kejadian itu, petugas rumah sakit langsung mencari keberadaan jenazah WT.Lanjutnya, dua tim forensik datang mengambil jenazah sang ibu namun keluarga kembali harus menunggu lama. Setelah itu pihak rumah sakit memanggil DF untuk memastikan jasad ibunya sebelum dipetikan.

“Kami nggak mau jenazah mama saya langsung dipetikan. Saya mau lihat mukanya untuk memastikan. Kita sudah ketakutan duluan,” tuturnya.

“Setelah itu, saya bilang nggak usah pakai peti langsung ambil dari ruangan. Ini makan waktu terlalu lama. Akhirnya mama saya diambil dari ruangan. Setelah itu dibawa ke forensik,” bebernya.Atas kejadian itu, pihak keluarga mengaku kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak RSUD Kota Bogor.

Ada dua hal yang membuat keluarga DF kesal dan kecewa. Pertama adalah masalah proses pemulasaran jenazah yang memakan waktu hingga berjam-jam. Sementara penanganan jenazah pasien Covid-19 tidak boleh melebihi di atas empat jam.

Kedua adalah kelalaian pihak RSUD Kota Bogor yang tidak menunjukkan kredibilitasnya sebagai rumah sakit rujukan Covid-19 sehingga berujung tertukarnya jenazah sang ibu dengan jenazah orang lain.”Yang dibahas itu jenazah dibiarkan sampai 10 jam. Dua, jenazah ketukar. Memang posisinya masih di rumah sakit, tapi ini lalai gitu loh,” kata dia.

“Sekarang pikir, kalau kami dari keluarga nggak maksa buat lihat jenazah ibu, nanti sampai rumah, di kuburan, siapa yang saya kuburin, siapa yang saya tangisin,” lanjutnya.

DF menambahkan, pihak rumah sakit telah menyampaikan permohonan maaf atas kejadian itu. Mereka mengakui kesalahannya dan lalai dalam menjalankan prosedur.”Ini bukan masalah sepele, karena sudah sangat banyak kejadian seperti ini. Pihak rumah sakit memang sudah ada permohonan maaf. Sampai bagian Humasnya datang ke rumah,” imbuh dia.

RSUD akui lalai
Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor menyampaikan permintaan maaf atas insiden tertukarnya jenazah WT.Humas RSUD Kota Bogor Taufik Rahmat mengungkapkan, pihak rumah sakit sudah meminta maaf kepada pihak keluarga secara langsung dan mendampingi pemakaman serta mendatangi rumah duka.

“Saya sudah jelaskan ke pihak keluarga tentang ketidaknyamanan pelayanannya. Saya juga sudah meminta maaf atas nama RSUD apabila ada hal-hal yang tidak berkenan. Kami datang ke rumah duka di Leuwiliang hari itu juga. Kami menyampaikan bela sungkawa dan permohonan maaf,” ucap Taufik.Taufik mengakui adanya kelalaian komunikasi yang dilakukan petugas rumah sakit sehingga menyebabkan tertukarnya jenazah.

Ia mengatakan, petugas di bagian keperawatan dan petugas pemusaraan yang bertugas di hari itu tidak bertemu sehingga menimbulkan dugaan terjadinya jenazah yang tertukar.

Taufik menyebut, petugas pemusaraan yang datang ke ruang perawatan mengambil jenazah tanpa ada komunikasi dan membawanya ke ruangan forensik.”Hari itu saya tidak tahu apa yang terjadi sehingga petugas pemusaraan langsung membawa jenazah ke ruangan forensik. Ini yang kemudian menimbulkan dugaan dari pihak keluarga ada jenazah yang tertukar dan adanya kelalaian dari pihak rumah sakit,” imbuhnya.

“Akhirnya kita coba perbaiki, kita ikuti tuntutan dari pihak keluarga. Saya juga ditahan ngga apa-apa, sampai selesai saya dampingi pihak keluarga sampai ke ruangan isolasi batu tulis bagian belakang rumah sakit dengan petugas bagian pemusaraan dua orang. Kemudian dua petugas pemakaman ini mencari jenazah atas nama ibu WT,” tutur dia.

Sistem dievaluasi
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengaku telah melakukan evaluasi terhadap prosedur penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor.

Hal itu dilakukan imbas dari insiden tertukarnya salah satu jenazah pasien Covid-19 di rumah sakit rujukan Kota Bogor itu.

Dalam evaluasi tersebut, Bima meminta jangan sampai ada petugas piket yang kosong di rumah sakit.

Selain itu, Bima juga meminta agar setiap pasien Covid-19 yang meninggal harus langsung diberi identitas untuk mengantisipasi tertukarnya jenazah.”Saya sudah evaluasi. Ruang perawatan apalagi ada jenazah harus ada petugas yang piket (berjaga),” ungkap Bima Arya.Bima pun menyinggung soal tidak adanya petugas di hari kejadian yang berjaga di ruang pemusaran, tempat jenazah pasien Covid-19 disimpan.

Sehingga, kata Bima, tim forensik rumah sakit yang mendapat desakan dari pihak keluarga salah mengambil jenazah.

“Kenapa ini terjadi (tertukar jenazah), karena saat tim forensik datang untuk mengambil jenazah yang dimaksud tidak ada petugas yang jaga di ruangan itu sehingga mengambil jenazah orang lain,” tutur Bima.

Bima menyampaikan, atas peristiwa itu, pihak RSUD Kota Bogor sudah meminta maaf kepada pihak keluarga yang bersangkutan. Ia juga meminta agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Sumber : kompas.com (https://megapolitan.kompas.com/read/2021/01/05/09300341/tertukarnya-jenazah-pasien-covid-19-di-bogor-pengakuan-rs-dan-evaluasi?page=3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat