September 28, 2021

Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Kebebasan Anak dalam Belenggu Pandemi

8 min read

Harianjabar.com – Ali berjalan terhuyung menuju kamar mandi. Pagi itu, langkahnya terasa berat sekali. Tampak tidak semangat mengikuti kegiatan belajar hari ini.

Seragam sudah terpakai rapi. Ali duduk di kursi. Wajahnya lesu. Sesekali terdengar menggerutu. Ingin pandemi segera berlalu.

Sudah satu tahun lebih Ali belajar sendiri di rumah. Hanya didampingi kedua orangtuanya. Tanpa teman dan ibu guru. Karena sekolah belum mengizinkan tatap muka.

Setiap hari, Ali menatap wajah teman dan guru lewat layar komputer lipat. Begitu juga dengan bahan pelajaran. Hanya sekadar mendengar sedikit penjelasan atau melalui video pembelajaran.

Semangat belajar Ali kian menurun. Belajar di rumah tidak mengesankan apa-apa. Tidak mengenal teman, apalagi memiliki sahabat.

“Aku bosan sekolah di rumah terus,” kata Ali bercerita dengan merdeka.com akhir pekan lalu.

Pandemi melanda tepat ketika Ali baru saja duduk di bangku sekolah dasar. Hingga tahun ajaran berganti, Ali belum belum pernah melihat wajah teman-teman barunya. Kerinduan Ali akan suasana sekolah sudah benar-benar tidak terbendung.

“Aku tidak mau kayak gini terus, tidak seru tidak ada teman tidak ada ibu guru,” ucapnya polos.

Dia semakin kecewa. Waktu bermain tidak hanya hilang dari lingkungan sekolah. Tetapi juga di tempat tinggal. Teman-temannya tidak lagi bebas main bersama. Semua lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Dian mengakui. Suasana pandemi tidak sekadar berdampak pada kesehatan masyarakat. Bahaya lainnya, pandemi telah membuat buah hatinya kehilangan masa kanak-kanak.

Ali jarang terlihat ceria. Hari-harinya penuh keluhan akan suasana membosankan.

Persoalan serius lainnya. Pembelajaran online membuat ketergantungan Ali pada gadget kian memprihatinkan. Padahal selama ini, Dian sangat ketat demi melindungi anaknya dari kecanduan gadget.

“Saya sebagai orang tua makin ke sini makin serba salah. Satu sisi pandemi bikin was-was, tapi psikologis anak saya kian terancam,” keluh Dian.

Dian memahami, ada tujuan baik di balik belajar jarak jauh dan aturan tetap di rumah saja. Suasana sekolah ditakutkan menjadi klaster baru penularan Covid-19. Mengingat anak sebagai kelompok rentan.

Tetapi kondisi ini tidak bisa terus dipertahankan. Masa depan anak-anak harus diperhatikan. Sebab perjalanan masih sangat panjang. Jangan sampai pandemi membuat mereka kehilangan semua impian.

Dian juga menyadari. Pandemi yang begitu tiba-tiba membuat banyak hal menjadi serba dadakan. Termasuk pendidikan. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi hambatan.

Tetapi buatnya, waktu satu tahun cukup bagi pemerintah beradaptasi. Memilah mana kebijakan paling tepat diambil khususnya terkait masa depan anak-anak. Sebab pemerintah juga memiliki tanggung jawab.

“Saya merasa pemerintah hanya berpikir masalah anak saat pandemi sebatas belajar mengajar. Padahal kalau dilihat lebih luas, banyak sekali dampak buruk dari pandemi ini buat anak,” katanya.

Diakui pula oleh Dian. Pandemi berkepanjangan membuat hubungan orangtua dan anak sering tak sejalan. Ketidaksepakatan hingga perbedaan pendapat datang bergantian. Kadang berujung luapan emosi tak terkendali.

“Anak mengeluh ini itu, kita juga banyak tugas lain, belum lagi ibu yang sambil bekerja. Kondisi ini kemudian memunculkan geseken. Akhirnya yang tersisa cuma kemarahan,” kenang Dian.

Harapan Dian mungkin sama seperti orang tua lainnya. Pemerintah memandang serius persoalan pandemi dan dampaknya terhadap anak.

“Jangan sampai anak-anak ini dua kali menjadi korban. Akibat pandemi dan mental yang tertekan,” katanya.

Persoalan belajar jarak jauh nyatanya bukan hanya beban buat siswa. Guru sebagai tenaga pendidik juga mengakui banyak kendala.

Setiap anak memiliki karakter berbeda dalam menyerap pelajaran. Kendala ini menjadi tantangan tersendiri untuk para guru yang mengajar di era pandemi.

Guru dituntut selalu kreatif. Membangun suasananya menyenangkan. Agar proses belajar mengajar berjalan lancar dan kondusif.

“Bagi yang tidak mengerti, memang kita harus beri perhatian ekstra. Misalnya dengan video call pribadi atau belajar langsung di rumah saya,” kata Syifa, salah satu guru sekolah dasar di Jakarta.

Dia mengakui, model pembelajaran jarak jauh akibat pandemi menuntut para guru tak sekadar belajar biasa. Guru harus bisa membangkitkan semangat belajar siswa yang mulai bosan. Ragam cara dilakukan. Agar para murid tetap fokus dan memperhatikan.

“Tugasnya guru mencari inovasi menggali ide belajar atau membuat suatu permainan untuk mengedukasi anak,” katanya.

Dampak Buruk Belajar Jarak Jauh

Sebuah penelitian mengungkap fakta. Belajar jarak jauh tak berdampak signifikan pada kecerdasan anak. Justru memunculkan masalah baru. Sikap emosi yang tidak terkontrol

“Hasil penelitian yang kami lakukan pada 1.263 siswa mulai jenjang SD hingga SMA, menunjukkan bahwa 57 persen siswa SD dan SMP merasakan emosi negatif dan 70 persen siswa SMA yang merasakan emosi negatif,” ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal di Jakarta, kepada Antara beberapa waktu lalu.

Emosi negatif muncul beragam. Mulai dari rasa bosan, sedih, kurang memahami materi, stress, bingung, merasa kurang bersemangat, merasa terbebani, kurang puas, hingga merasa kesulitan dalam belajar. Bahkan semakin tinggi jenjang pendidikan, jenjang antara emosi positif dan negatif semakin lebar. Sebab utamanya, proses dan strategi belajar mengacu kurikulum nyatanya tidak tepat atau tidak sesuai dengan perkembangan mental siswa itu sendiri utamanya di tengah pandemi.

Saat gap emosi negatif semakin lebar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Semakin terlihat jelas tugas yang selama ini disampaikan guru tidak bisa meningkatkan kompetensi belajar siswa. Sebaliknya, berakibat pada penurunan kecerdasan dalam membangun peradaban yang semakin berdampak ke learning loss.

“Justru tugas-tugas tersebut menjadi beban. Juga ada kesulitan belajar yang dirasakan anak SD hingga SMA, artinya mereka merasa tidak produktif atau berkurang motivasi selama proses belajar,” jelas Rizal.

Tidak hanya persoalan mental. Belajar jarak jauh akibat pandemi juga membuat ketergantungan anak pada gadget semakin tinggi.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, sepakat pandemi mendatangkan masalah serius bagi anak. Selain masalah kesehatan, psikologis mereka juga terancam.

Anak di usia tumbuh kembang yang seharusnya banyak bersosialisasi dan bermain di alam kini menghabiskan waktu hampir 20 jam di rumah. Kegiatan mereka semua beralih ke rumah mulai dari belajar hingga bermain.

Kondisi kian parah ketika orangtua anak tersebut seorang pegawai. Anak semakin merasa kurang diperhatikan dan mencari hiburan lewat gadget yang sebenarnya untuk pembelajaran.

“Akibat tidak ada ruang-ruang berhenti untuk anak mengakses gadget tentu berdampak negatif terhadap anak terlebih terhadap perkembangan mental dan kejiwaan anak. Ini yang saat ini terjadi,” kata Arist.

Pandemi memang membuat banyak kegiatan dilakukan secara daring. Tetapi khusus anak, perlu ada pendampingan khusus agar mereka tidak kebablasan menggunakan gadget.

“Itu sebabnya, orangtua sangat, sangat, sangat penting untuk mengawasi anak dan membatasi anak. Sebab fakta menunjukkan, 60 persen media sosial digunakan untuk hal-hal tidak baik yang tidak ada hubungannya dengan anak-anak,” katanya

Seorang anak yang dilahirkan memiliki hak-hak yang harus dilindungi. Baik oleh keluarganya maupun pemerintah. Seperti hak memperoleh pelayanan kesehatan hingga pendidikan. Tetapi situasi pandemi, membuat hak-hak itu sulit terpenuhi secara maksimal.

Terkait pendidikan, pada dasarnya masalah ini masih bisa diatasi. Asalkan ada konsep pembaharuan dalam belajar. Sehingga suasana yang sudah sedemikian membosankan tidak terasa semakin menjenuhkan.

“Jadi membuat kegiatan-kegiatan untuk tidak berdampak kejenuhan. Misal ada telling story, gambar, seni, musik, agar mereka tidak jenuh di rumah,” kata Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Suyoto Usman.

Dia mencontohkan bagaimana mahasiswa di Yogyakarta mengembangkan pariwisata virtual yang materinya mengajarkan cara memasak gudeg. Cara-cara ini bisa diadopsi banyak lembaga pendidikan agar anak tidak menjadi korban beban kurikulum.

“Jadi anak-anak diberi performance tapi lebih wow. Ada kegiatan yang berbeda, yang ekstra, yang rutin. Saya kira perlu ada kreasi-kreasi. Menggunakan pengajaran dengan cara out of context sebagai solusi mengajar dengan cara yang baru,” tegas Usman.

Membersamai Anak Melewati Badai Pandemi

Belum ada yang bisa memperkirakan. Kapan pandemi ini berlalu dan pergi. Mau tidak mau semua harus beradaptasi. Belajar hidup berdampingan dengan virus Corona.

Begitu juga dengan orangtua. Sedianya harus siap lahir batin membersamai buah hati melalui kondisi ini. Sebab, masa anak-anak tidak akan pernah terulang. Sehingga butuh sedikit pengorbanan lebih memahami dan mengerti mereka.

Dian menyadari. Keintiman keluarganya terusik. Satu tahun lebih menahan rasa jenuh dan bosan akibat pandemi. Aktivitas di rumah mulai terasa monoton dan tak istimewa. Bahkan keributan kecil beberapa kali mulai terjadi.

“Saya merasa suasana tidak lagi kondusif. Kejenuhan malah jadi bibit kemarahan,” katanya saat berbincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu.

Semula, ibu dua anak ini merasa senang dan bahagia bisa menghabiskan waktu bersama anak dan suami meski sambil bekerja di rumah. Baginya dan suami, momen ini seperti jawaban atas doa-doanya yang ingin bekerja di rumah sambil menemani anak bermain dan belajar.

Setelah dijalani, Dian mulai kewalahan dengan tugas barunya selain menjadi ibu rumah tangga dan karyawan. Keadaan memaksanya Dian turut mengambil peran sebagai guru untuk anak yang sedang belajar jarak jauh.

Posisinya terasa kian sulit. Saat anak mulai melanggar aturan dan komitmen yang sepakati. Perdebatan hingga tangisan akhirnya tidak terhindarkan.

“Makin ke sini hubungan orang tua dan anak makin kayak susah berjalan beriringan. Anak kebawa santai padahal dia punya tugas juga dari sekolah. Nah kita karena ada tugas lainnya, maunya mereka segera selesai,” keluhnya.

Dian menyadari. Anak bukan biang masalah. Sebagai orangtua, dia justru harus bisa menempatkan diri. Kesibukan harusnya tidak menjadi alasan.

Anak tetap menjadi prioritas. Perhatian juga harus diberikan. Sebab pandemi sudah membuat anak tertekan. Hilang masa bermain dan berteman.

Peran Orangtua yang Utama

Apa yang dialami Dian saat ini menjadi kondisi nyata. Anak turut menjadi korban serius akibat pandemi berkepanjangan. Semua ini akibat ruang gerak yang terbatas. Membuat mereka sulit hanya untuk sekadar tertawa bersama teman sepermainan.

Tetapi, peran keluarga dan lingkungan menjadi kunci utama. Agar masa kecil anak tidak berlalu sia-sia. Tetap ceria dan bahagia. Walaupun corona belum mereda.

“Karena kesempatan bisa main di luar itu jadi sangat terbatas sekali,” kata Psikolog Anak dan Remaja, Feka, saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (25/8) kemarin.

Orang tua sebagai makhluk dewasa diminta bersikap lebih peka. Berdamai dengan keadaan dan memahami kegelisahan anak Bukan sebaliknya, menambahkan beban psikologis mereka dengan kemarahan.

“Yang harus mengendalikan diri orang dewasanya, bukan anaknya. Karena anak itu membutuhkan orangtua,” katanya.

Pada kondisi ini, memang tantangan menjadi orangtua akan berlipat ganda. Bagaimana tetap membuat mereka ada dunianya meski dengan cara sederhana.

“Tetapi diturunkan target yang biasanya dicapai. Misal berenang di rumah dengan pakai ember. Kasih anaknya main air. Di satu sisi kita menurunkan ekspektasi untuk tidak ngomel kalau airnya kebanyakan.”

“Jadi memang ada hal-hal yang memang kita turunkan aturannya, melonggarkan aturan untuk membantu proses relasi antara anak dan orangtua,” katanya.

Bisa juga mencari aktivitas lain di media sosial. Kemudian diaplikasikan di rumah bersama anak-anak. Sehingga anak benar-benar merasakan kehadirannya.

“Karena kebutuhan gerak anak SD sampai remaja itu sampai 8 jam. Jadi 8 jam itu diutamakan dulu, baru habis itu boleh kalaupun mau main media sosial tapi tetap diawasi,” jelas Feka.

Membantu anak melewati beratnya masa pandemi ternyata tidak hanya tugas keluarga. Dukungan lingkungan yang positif akan sangat membantu.

“Sebab lingkungan eksternal memberikan ruang bagi anak untuk bisa mengekspresikan diri,” kata Sosiolog, Bayu A Yulianto.

Dia sepakat. Pandemi telah membuat hidup anak-anak terkekang. Bahaya dari dari aktivitas yang terkekang, katanya, membentuk pribadi anak menjadi pemberontak karena merasa tidak bisa mengekspresikan dirinya.

“Karena selama ia tumbuh, yang ia hadapi adalah kekangan demi kekangan, atau ketiadaan kebebasan,” katanya.

Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, juga mengamini. Semua anak di dunia kehilangan hak tumbuh kembang secara optimal akibat pandemi. Itu sebabnya, peran orang tua dan lingkungan sangat dibutuhkan memastikan mereka tetap baik-baik saja.

“Peran orangtua yang ditingkatkan dalam pengasuhan positif, pendampingan dan pengawasan buah hatinya,” ucap Retno singkat.

Ditambahkan Ketua Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, tidak bisa tanggung jawab mendidik anak selama pandemi juga dibebankan pada pemerintah.

“Kita tidak bisa selalu harapkan pemerintah bikin apa. Orangtua yang bisa melakukan itu. Tetapi pemerintah tidak bisa tinggal diam untuk memberikan pemberdayaan kepada kedua orangtuanya,” tutup Arist.

Anak adalah titipan Tuhan. Sudah sepatutnya mereka mendapatkan haknya untuk dilindungi meski negara dalam bencana. Termasuk saat Indonesia dilanda corona.

Semua punya peran menjaga mereka. Agar tetap bahagia dan ceria.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat