November 29, 2021

Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Didirikan Oleh KH Ahmad Nahrowy, Kini Ponpes An-Nahrowiyyah Garut Terus Lakukan Pembenahan

3 min read
Salah satu kegiatan rutin Pengajian Bulanan di Mesjid Ponpes An-Nahrowiyyah.

Harianjabar.com — Garut, Pada dasarnya pesantren adalah sebuah miniatur negara, yang mana di dalam konsep pendidikan pesantren menganut sistem pendidikan pragmatis-instrumental dan religius-rasional. Pendidikan pesantren mencakup dimensi duniawi dan ukhrowi. Dari segi dimensi duniawi menekankan bahwa proses belajar mengajar hendaknya mampu menghasilkan ilmu yang menjadi tujuan pendidikan, baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Adapun dimensi ukhrowinya menekankan agar belajar yang merupakan suatu proses untuk mendapatkan ilmu hendaknya diniati untuk beribadah, yakni sebagai manifestasi perwujudan rasa syukur sebagai seorang hamba kepada Allah SWT. Seperti halnya di Pondok Pesantren Annahrowiyyah Rancapeuti. Rancapeuti merupakan sebuah nama kampung di wilayah Desa Cirapuhan, Kecamatan selaawi – Garut.

Ketua Yayasan Annahrowiyyah Rancapeuti Ajengan Aceng Ahmad Sanusi mengatakan, Pesantren ini didirikan oleh KH. Ahmad Nahrowy atau masyhur dengan sebutan Mama Rancapeuti yang lahir pada tahun 1874 M, tidak ada yang tau persis tanggal kelahiran beliau, namun di perkirakan beliau masih satu kurun bahkan sobat karib (dalit) dengan Mama Ajengan Sobar Cibiuk.

“Mulanya pesantren ini hanyalah sebuah tempat pendidikan yang umum dalam artian belum sah secara legal dan formal. Hanya baru berupa mesjid dari bangunan kayu (red bilik). Adapun asrama untuk para santri yaitu berupa bangunan dari anyaman bambu,” katanya.

Ajengan Aceng yang merupakan Cicit Mama Nahrowy menyebutkan, dulu banyak santri yang menimba ilmu pada beliau ada yang dari Garut, Bandung, Cianjur dan notabene didominasi oleh santri yang berasal dari Sumedang khususnya kecamatan Cibugel yang mana tetanggaan dengan kecamatan Selaawi, bahkan masyarakat Cibugel pun ketika melaksanakan sholat jum’at berjalan kaki ke Masjid Jami’ Annahrowiyyah Rancapeuti.

Nahrowy muda menghabiskan masa mudanya dengan menimba ilmu ke beberapa pesantren diantaranya pesantren yang di asuh oleh Mama Cikelepu Kulon. Singkat cerita, setelah beberapa tahun nyantri kemudian beliau nikah diantaranya dengan Nyi Hj Siti Jam’iyah putri dari KHR Anwar (Mama Uwer cipendok). Adapun hasil dari pernikahan ini di karuniai putra diantaranya:

  1. KH. Aga Ghazali
  2. KH. Aceng Munir
  3. KH. Apap Fudloli

Beliau inilah yang kemudian nantinya akan mewarisi estafeta kepemimpinan Pondok Pesantren An-Nahrowiyyah. Setelah Mama Sepuh Wafat (1964 M) di makamkan di komplek pemakaman Bihbul. Estafeta kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya KH. Aga Ghazali (1925 M) dan KH. Aceng Munir (1931 M), lain halnya dengan KH. Apap Fudloli beliau muqim dan mendirikan sebuah pondok di Kampung Garela. Beliau berbekal ilmu dari beberapa pesantren diantaranya:

  1. Ponpes Pamuyangan
  2. Ponpes Cikalama
  3. Ponpes Riyadlul Alfiyah (Sadang – Garut)
  4. Ponpes Mihajul Karomah (Banjar)

Dalam kurun waktu tahun 1990, berkat keinginan kuat keluarga di tambah dukungan para tokoh masyarakat, maka secara resmi lembaga ini di beri nama “Pondok Pesantren Annahrowiyyah” Tafaul (Ngalap berkah) kepada KH Ahmad Nahrowy (The Founding Father).

Bersamaan dengan hal itu, pesantren ini semakin eksis dalam mengembangkan syiar islam sekaligus menjawab kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi dari pada sebuah pesantren. Dalam kurun waktu yang sama , pesantren ini mengalami perubahan yang sangat signifikan baik itu dari segi sarana, metode pendidikan, kualitas maupun kuantitas santri.

Renovasi pembangunan Pondok Pesantren Annahrowiyyah pada tahun 2020 silam.

Secara organisasi, beliau kakak beradik ini aktif di Jam’iyah Nahdlotul Ulama (NU) secara struktural (organisasi), Jika KH Aceng Munir fokus terhadap pendidikan pesantrenn (Ngawuruk), maka KH Aga Ghazali yang bergerak di sektor organisasi . Maka bisa di sebutkan bahwa Mama Aga inilah yang menjadi benteng NU khususnya di wilayah desa cirapuhan bersama KHR Adang Abdurrohman (Mama Cilombang) sehingga poto beliau berdua di abadikan di jajaran tokoh NU Selaawi.

Setelah KH. Aga Ghazali wafat pada (2004 M), estafet kepengurusan di lanjutkan oleh adiknya KH Aceng Munir sampai tahun 2016. Setelah KH Aceng Munir wafat (2016) estafet kepengurusan dilanjutkan oleh anak dan mantunya.

Seiring perkembangan zaman , dalam rangka mengimbangi era modernisasi maka pesantren ini telah sah secara formal dan legal berdasarkan konstitusi berbentuk sebuah yayasan dengan nama “Yayasan Annahrowiyyah Rancapeuti Selaawi”.

Sebagai penunjang pembelajaran efektifitas para santri maka pada tahun 2019 hingga sekarang, pesantren Annahrowiyyah terus melakukan renovasi bangunan guna memfasilitasi sarana prasana untuk santri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat