Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Melihat Masjid Kebanggaan Majalengka Berusia 160 Tahun.

2 min read

Harianjabar.com – Masjid Agung Al-Imam merupakan salah satu masjid tua di Kabupaten Majalengka, Jawa barat. Masjid yang berada di kawasan alun-alun Majalengka ini telah berusia sekitar 160 tahun-an.


Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar pada tahun 1860 an tepatnya pada masa kepemimpinan Bupati Majalengka ke-2, yakni Raden Aria Adipati Kertadiningrat.

“Kalau dari keterangan, masjid ini diperkirakan dibangun tahun 1860 an. Pembangunan masjid ini hampir bersamaan dengan pembangunan Pendopo dan Alun-alun,” kata Nana Rohmana, selaku Ketua Grumala (Gruop Madjalengka Baheula) sekaligus penikmat sejarah Majalengka.

Disampaikan dia, pada zaman kolonial Belanda, masjid ini merupakan tanah wakaf Imam Hakim Majalengka (penghulu), Kiai Imam Syafari. Masjid ini awalnya berbentuk sederhana.

“Masjid Al-Imam awalnya tanah wakaf dari Kiai Imam Syafari. Masjid ini awalnya sederhana, tak begitu besar, berbentuk panggung dan di bawahnya terdapat kolam kecil,” jelas Naro sapaan akrab Nana Rohmana.

Pada tahun 1860 an juga, kedudukan Kiai Imam Syafari menjadi penghulu diganti oleh putranya yaitu Kiai Imam Hasan Basarie. Di masa kedudukan Kiai Imam Hasan Basarie, ia melakukan perbaikan masjid tersebut, namun tidak banyak perubahan renovasi pada saat itu.

Singkat cerita, pada tahun 1888 tepatnya masa kepemimpinan Bupati Majalengka ke-6, yakni R.M.A.A Salmon Salam Sura Adi Ningrat, masjid Al-Imam mulai banyak perubahan.

“Masjid Al-Imam pada zaman Bupati R.M.A.A Salmon Salam Sura Adi Ningrat, mulai ada perombakan dan perbaikan secara menyeluruh. Ada penambahan tembok dan lantai,” papar dia.

“Tahun 1930-an dirombak lagi pada masa bupati R.M.A.A Suriatanudibrata. Tahun 1960 masa Bupati R Sutisna juga ada sedikit renovasi. Di tahun 1987 pada masa Bupati Zaelani SH juga ada renovasi lumayan besar, yakni kolam sebelah utara telah dihilangkan,” timpal dia menambahkan.

Sementara, Masjid Al-Imam yang berawal dibangun dan diurus oleh Kiai Imam Syafari sebagai orang yang mewakafkan tanahnya itu penamaan Al-Imam sendiri diambil dari nama jabatan penghulu atau Imam

“Jabatan penghulu atau Imam diteruskan kepada putra putranya. Kiai Imam Syafari dimakamkan di komplek makam Kamuning Cijati bersama dengan Kiai Imam Hasan Basarie dan keturunannya. Demikian pengetahuan itu kami rangkum dari berbagai sumber,” tandasnya.

Kiai Imam Syafari ini adalah kakek dari Pahlawan Nasional KH Imam Syafari dan beliau juga merupakan putra dari Kiai Nurqo’im Cijati. Adapun Kiai Nurqo’im Cijati adalah salah satu dari tokoh tiga serangkai yang ditugaskan oleh kesultanan Cirebon untuk menjadi sekar dalem atau juru rawat makam Kesultanan Cirebon.

“Ketiga tokoh ini adalah Kiai Nurqo’im Cijati, Kiai Syarifudin Babakan Jawa, dan Kiai Muhammad Hafid Margatapa,” ujarnya.

Sementara, masjid kebanggaan masyarakat Majalengka ini, saat ini telah banyak perusahaan. Masjid Agung Al-Imam kini lebih terlihat megah dengan gaya dan tampilan baru.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *