August 8, 2022

Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Melihat Ruangan Pengadilan Bung Karno di Bandung

2 min read

Harianjabar.com – Meja berwarna cokelat, dengan tiga kursi berwarna cokelat yang kala itu diduduki hakim, menjadi saksi bisu saat Presiden Soekarno diadili di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

Belum lama ini, harianjabar berkunjung ke gedung bersejarah ini. Saat memasuki gedung ini, ruang sidang tempat Bung Karno diadili ada di sebelah kanan. Kondisinya, masih terawat dan terjaga.

Sebelum memasuki ruangan sidang, di tembok pintu masuk kita akan melihat batu prasasti bertuliskan nama-nama yang diadili bersama Bung Karno pada tahun 1930 itu. Nama-nama tersebut di antaranya, Ir Soekarno, Maskoen, Soepriadinata dan Gatot Mangkoepradja. Sedangkan dua nama pembela, yakni Mr Sastromoeljono dan Mr Sartono.

Di dalam ruang sidang, selain terdapat meja dan kursi hakim, ada juga dua pagar pembatas yang terbuat dari kayu, sejumlah foto dan kliping koran tempo dulu.

Seperti diketahui, GIM terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan yang berada di jantung Kota Bandung. Lokasinya hanya sepelemparan batu dari Jembatan Via Duct Bandung, yang tak lain menjadi salah satu saksi berseminya kisah cinta Soekarno dan ibu Inggit Garnasih.

Landraad atau Pengadilan Pemerintahan Kolonial Belanda saat ini merupakan cagar budaya di bawah pengelolaan Disbudpar Jabar yang dibangun pada tahun 1907. Pada saat didirikan, gedung ini belum menjadi pengadilan, pada tahun 1930 gedung ini digunakan untuk mengadili para pejuang kemerdekaan.

Selain pernah menjadi Landraad, gedung ini juga beberapa kali pernah beralih fungsi. Setelah Kolonial Belanda mundur dan Indonesia meraih kemerdekaan, GIM pernah menjadi Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) pada tahun 1950.

Tak lama jadi kantor PMI, GIM beralih fungsi menjadi Gedung Keuangan pada tahun 1950-1973. Hingga akhirnya dari 1973-1999 menjadi Kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jawa Barat.

Baru pada tahun 2005, GIM mengalami pengubahan fisik di bagian luar. Interior di dalam gedung masih otentik, namun ada tambahan bangunan di bagian sayap sebelah kiri dan kanan. Baru pada pada 2007, GIM resmi dibuka untuk umum dan menjadi gedung cagar budaya.

Sekarang gedung tersebut digunakan sebagai ruang berkumpul para seniman, wartawan, dan guru di Bandung. Beberapa kegiatan yang dilakukan di sana antara lain apresiasi puisi, kegiatan seni, seminar, hingga diskusi.

Selain itu, ruang persidangan Soekarno pun masih bisa dilihat pengunjung, seraya melihat infografis perjuangan Indonesia kala itu.

Kabid Kebudayaan Disparbud Jabar Febby mengimbau, bagi pengguna GIM agar tetap menjaga kebersihan gedung bersejarah ini.

“Intinya kemana pun kita berwisata harus jadi smart tourism, wisatawan cerdas, tahu di mana dia sedang berada, mereka wakil daerahnya, komunitasnya, berarti jangan bikin malu,” kata Febby via sambungan telepon.

GIM haris dijaga, karena merupakan peninggalan sejarah yang harus dilestarikan oleh anak cucu kita.

“Keberadaan semua fasilitas atau semua yang ditinggalkan itu tidak bisa diberikan kepada satu pihak tanggungjawabnya, tapi ini jadi tanggungjawab semuanya. Jaga kebersihan sama dengan dukung kemajuan budaya itu sendiri,” kata Febby.

Leave a Reply

Your email address will not be published.