Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Bukan Sekadar Mainan, Lato-lato Bisa Lepaskan Anak dari Ketergantungan Gadget

2 min read

Harianjabar.com – Permaninan anak tahun 90-an lato-lato Kembali popular. Bahkan, tak hanya anak-anak, dewasa dan berbagai kalangan mencoba memainkan permainan tersebut. Permainan ini bahkan memberi banyak manfaat.

Ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Hery Wibowo mengungkap, fakta sosiologis dari permainan lato – lato. Dikutip dari kanan Media Unpad, permainan tradisional yang ada sejak 1990-an ini Kembali popular dimainkan oleh anak-anak di Indonesia saat ini.

Menurut her, secara umum, permainan lato-lato menjadi momentum terbaik bagi orang tua untuk “sedikit” melepaskan anak dari ketergantungan bermain telepon seluler.

Dengan demikian, anak menjadi sedikit terhindar dari potensi negative yang bisa dialami Ketika terlalu banyak bermain gawai.

“Ini juga momentum terbaik untuk membangun ‘growth mindset’ dengan penekanan bahwa proses itu pending, tidak ada sukses instan, dan berlatih akan membawa hasil,” kata Hery

Hery menjelaskan, ada delapan fakta sosiologis terkait permainan lato-lato. Pertama, lato-lato mampu membangun interaksi social. Berbeda dengan permainan berbasis perangkat seperti HP, Tablet, atau perangkat lainnya, lato-lato lebih menyenangkan untuk dimainkan Bersama-sama.

“Artinya, inilah ajang membangun interaksi social generasi Z yang sering disebut generasi ‘alien’ karena suka menyendiri dan generasi rebahan. Tanpa terasa kohesi social antar anal-anak mulai terbangun,” kata Hery.

Fakta kedua, lato-lato mampu membangun identitas social dan konsep diri yang positif. Secara tidak langusng, anak yang memainkan lato-lato akan berusaha menunjukan kemahirannya di depan sebabnya. Hery memaparkan, ini bisa menjadi lahan positif bagi anak untuk membangun konsep diri positifnya, karena mereka memiliki “wahana” untuk menunjukan kebiasaannya yang belum tentu dimiliki anak-anak lain dilingkungan social permainannya.

Fakta ketifa, menjadi magnet “Fear of Missing Out” atau FOMO. Hery menjalaskan, FOMO menjadi salah satu karakteristik kuat dari generasi Z berdasarkan analisis para ahli. Generasi z yang lahir dari tahun 1995-2012 ini selalu takut dikatakan “ketinggalan zaman”, sehingga mereka berlomba mengejar apapun yang sedang viral.

Fakta keempat, lanjutnya lato-lato mampu mewadahi karakter generasi Z sebagai generasi “do it yourself”. Permainan ini dengan segala kesederhanaanya mampu mendorong pemainnya melakukan ragam inovasi saat memainkan dan menikmatinya. Melalui ini, kapasitas kreativitas anak dapat terus berkembang dengan cara menyenangkan.

Selain itu, anak juga perlu waspada saat bermain permainan ini. Ayunan bola yang kuat dan tidak terkontrol dengan baik berpotensi membentur ke bagian tubuh pemainnya, seperti mata, hidung, ataupun kepala. “Sehingga diperlukan focus dan konsentrasi penuh dalam memainkan, agar tidak membahayakan pemain maupun teman-teman di sekitarnyanya,”.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *