Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

‘Hukum Rimba’ di Stasiun Manggarai – Harianjabar.com

3 min read

Jakarta – Sebagai perempuan bertubuh mungil yang tingginya paling-paling cuma sampai 150 cm, Imelda Yashika merasa ‘penderitaannya’ di kala menumpangi KRL Commuter Line seolah bertambah dua kali lipat dibandingkan orang lain. Kejadian tak mengenakkan sering kali menimpanya saat sedang transit di Stasiun Manggarai, stasiun yang belakangan ini menjadi sasaran kekesalan Anker alias anak kereta.

“Belakangan, kan, ada perubahan, tuh, di KRL. Jadi saya dari Stasiun Pasar Minggu Baru kalau mau ke Tanah Abang harus transit dulu di Stasiun Manggarai. Biasanya, mah, sekali naik, nggak usah turun-turun,” ucap pegawai di sebuah toko baju di Pasar Tanah Abang. Perubahan alur transit ini berbarengan dengan pelaksanaan Switch Over ke-5 (SO-5) di Stasiun Manggarai sejak 28 Mei 2022.

Di dalam kereta, tubuh Imelda terhimpit di antara banyaknya penumpang. Di jam sibuk itu, tak sekalipun ia kebagian tempat duduk. “Karena badan saya kecil, udah desek-desekan, berdirinya sambil diketekin orang lagi. Macam-macam aroma dari yang wangi sampe bau asem itu saya udah ngerasain,” tawa Imelda.

Ketika hendak transit di Stasiun Manggarai, Imelda sudah sekuat tenaga mendorong tubuhnya agar bisa segera keluar dari kereta. Tapi apa daya, segerombolan ibu-ibu merangsek masuk bahkan sebelum Imelda sempat menginjakkan kaki di pintu keluar. Tubuh Imelda pun hanyut terbawa arus penumpang. “Kaki sampai nggak nyentuh lantai karena saking desek-desekan dan didorong masuk,” tuturnya.

Karena tak bisa turun di Stasiun Manggarai, Imelda terpaksa ikut sampai Stasiun Cikini, lalu kembali lagi ke Stasiun Manggarai. “Gara-gara penumpangnya bar-bar semua, saya sampai telat masuk kerja. Dipotong uang makannya, deh.”

Pengalaman serupa juga dialami Vina Azizah di Stasiun Manggarai. Vina hanya bisa pasrah membiarkan dirinya didorong penumpang yang hendak masuk ke dalam gerbong kereta. “Kalau udah transit di Stasiun Manggarai yang berlaku itu hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang menang. Siapa yang kuat, dia yang bisa turun dari kereta,” ungkapnya kesal.

Pemandangan berbeda Vina jumpai saat mengunjungi saudaranya di Tokyo, Jepang. Di sana ia sempat beberapa kali menjajal transportasi umum kereta, termasuk di jam-jam sibuk. Di antara stasiun besar yang ada di Tokyo, terdapat satu stasiun yang dikenal sebagai stasiun tersibuk di dunia. Stasiun Shinjuku menorehkan catatan di Guiness World Record. Sekitar 3,6 juta orang hilir mudik di sana setiap harinya. Sedangkan di Stasiun Manggarai, tercatat volume tertinggi penumpang pada 6 Juni 2022, yaitu sebanyak 640.286 orang.

Shinjuku merupakan area bisnis sekaligus sebagai pusat hiburan dan administrasi pemerintah. Terdapat banya gedung tinggi, hotel mewah, dan pusat perbelanjaan di sekitarnya. Tak heran jika di dalam stasiun ini, lautan manusia berdesak-desakan setiap harinya. Namun, terlepas dari begitu banyak penumpang Stasiun Shinjuku, keretanya selalu beroperasi tepat waktu dan penumpang tetap naik dan turun dengan tertib dan teratur.

“Sama desak-desakan juga kayak di KRL sini, cuma begitu pintu kereta terbuka, semua orang langsung ngasih jalan ke penumpang yang turun lebih dahulu. Habis itu yang masuk juga tertib nggak dorong-dorongan. Bahkan anak kecil aja udah bisa tertib, lho. Salut banget saya,” kata perempuan yang bekerja di sebuah agensi kreatif ini. Stasiun Shinjuku memiliki lebih dari 200 pintu keluar masuk dan memiliki 12 jalur kereta dengan 36 peron.

“Di sana keretanya setiap dua menit sekali dan berhentinya nggak lama. Kalau di sini, mah, gangguan sinyal, lah, keretanya ngetem melulu udah kayak angkot aja.”

Budaya teratur dan disiplin warga Jepang juga Nampak ketika sedang menunggu kereta tiba. Semua kompak berbaris di belakang garis kuning. Mereka juga tertib ketika menggunakan fasilitas eskalator atau tangga untuk perpindahan jalur kereta. “Di sana nggak ada, tuh, tangga naik jadi tangga turun, begitu juga sebaliknya. Sisi sebelah kanan untuk jalur cepat,” cerita Vina saat mengunjungi Jepang 2019 silam.

Kondisi berbeda ia dapati ketika kembali menggunakan KRL Commuter Line. Apalagi kini dari arah Bogor, Vina harus transit di Stasiun Manggarai untuk menuju Stasiun Sudirman. Vina pernah hampir saja celaka saat menuruni anak tangga. “Di tangga juga dorong-dorongan, kan, bahaya banget itu,” ungkapnya.

Ketimbang Stasiun Manggarai dulu sebelum direnovasi, Vina merasa kini fasilitasnya sudah lebih baik. Penumpang KRL tak lagi harus berpindah jalur sambil melewati rel kereta. “Memang, sih, masih belum sempurna, namanya juga masih direnovasi. Tapi mau sebagus apapun stasiunnya, tetap harus diimbangi juga sama ketertiban masyarakatnya. Percuma dikasih fasilitas bagus tapi kelakuan penumpangnya kayak setan.”

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *