Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Ceceran Darah Sang Wedana di Proyek Jalan Cibadak Sukabumi – Harianjabar.com

3 min read

Sukabumi (harianjabar.com) – Jalan Raya Cibadak menuju Palabuhanratu merupakan akses utama dari Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta menuju ke Palabuhanratu, Ibu Kota Kabupaten Sukabumi. Diperkirakan usia pembangunan jalan itu lebih tua dari jalan alternatif Cikidang-Palabuhanratu.
Ada kisah kelam sekaligus tragis terselip di balik proses pembangunan jalan tersebut, yakni saat sang wedana tewas di tangan pekerja bangunan atau kuli yang membangun jalan tersebut.

“Jalan darat Cibadak-Palabuhanratu merupakan jalan yang cukup tua mengingat sejak dulu menjadi jalur perjalanan para peziarah dari Palabuhanratu ke Pakuan maupun sebaliknya. Hanya saja kondisinya masih jalan setapak yang dilewati oleh Kuda,” kata Irman Firmansyah, penulis buku Soekaboemi The Untold Story.

Berdasarkan sejumlah literasi sejarah yang dipelajari Irman, orang Belanda pertama yang menyusuri jalur ini adalah Sersan Scipio atau Pieter Scipio van Oostende seorang prajurit sekaligus penjelajah.

“Sersan Scipio yang mengunjungi Palabuhanratu yang saat itu disebut Muara Ratu, bersama Letnan Tanujiwa serta Patinggi diiringi dengan anak buahnya. Jalurnya masih ekstrem dan banyak sungai yang belum dilengkapi jembatan,” ujar Irman.

Ketika Van Riebeeck mengunjungi Palabuhanratu tahun 1711 maka dimintalah penduduk Cidadap serta beberapa kepala kampung sekitar jalan untuk memelihara jalan tersebut. Dijelaskan Irman, fakta ini menunjukkan bahwa belum ada pembangunan jalan modern yang dilakukan hanya jalan yang bisa dilalui kuda.

“Kalau disebut pembangunan, yang awal melakukannya bisa jadi Daendels yang merintis jalan militer ke arah Sukabumi. Berdasarkan hasil survey Daendels disimpulkan bawa daerah jalur kopi Sukabumi masih cukup layak dan masih bisa dilewati oleh gerobak yang ditarik kerbau. Kerbau digunakan karena mampu melintasi jalan berlumpur terutama pada musim hujan,” ungkap Irman, Daendels yang dimaksud adalah Herman Willem Daendels, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

“Yang kemudian dibangun adalah jembatan dengan bahan bambu sederhana, yang seringkali hanyut terbawa banjir. Jalan ini pula yang dilalui oleh Junghuhn pada awal Oktober 1837 dalam perjalanannya selama penelitian ke Palabuhanratu,” sambungnya.

Pemerintah Hindia Belanda sendiri secara rutin memperbaiki jalan Cibadak-Palabuhanratu ini yang menjadi tanggungjawab Wedana Cicurug mengingat Palabuhanratu saat itu masih bagian dari distrik Pagadungan (Cicurug). Hanya saja perbaikan jalan juga dilakukan dengan cara yang paksa dan agak kejam.

“Mereka dibawa ke area jalan selama berhari-hari dengan istirahat kurang dan makanan seadanya sehinga tak jarang terjadi peristiwa tragis. Salah satu kejadian yang menghebohkan adalah terbunuhnya Wedana Cicurug Bernama Raden Tjakra Wigoena yang sedang meninjau perbaikan jalan antara Cibadak palabuhanratu pada 15 Februari 1854,” tutur Irman.

Masih dikisahkan Irman, sang Wedana mengerahkan 252 orang laki-laki untuk perbaikan jalan selama beberapa minggu, untuk melihat hasil perbaikan maka sang Wedana kemudian meninjau langsung ke lapangan.

“Saat peninjauan itulah dia melihat beberapa orang pekerja duduk-duduk, pada masa itu sudah menjadi kebiasaan jika ada pejabat maka semua pekerja harus menunjukkan giat bekerja. Sang Wedana jengkel dan mengambil gumpalan tanah kemudian dilemparkan ke arah mereka, namun lemparan tersebut tidak digubris, para pekerja tetap saja duduk tidak mempedulikan,” kisah Irman.

Sang Wedana kemudian mendatangi para pekerja, memarahinya untuk kembali bekerja dan memukuli salah seorang pekerja. Sang pekerja yang kebetulan memegang bambu membela diri dan memukul kepala Sang Wedana hingga jatuh tersungkur dan tewas di atas jalan yang dia perbaiki.

“Hasil investigasi ternyata tersangkanya adalah mandornya sendiri Bernama Mandor Malin yang kemungkinan melakukan protes saat kedatangan wedana tersebut,” imbuh Irman.

Hingga tahun 1868 jalan menuju Palabuhanratu masih lah jalan liar yang tidak aman terutama dari binatang buas. Dikisahkan oleh penginjil lain yaitu Albers bahwa tahun 1868 antara Cikembar ke Palabuhanratu masih banyak harimau dan badak terutama senja hari sampai pagi, sehingga sangat berbahaya melewatinya.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *