Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Spektrum – Kekuatan kebaya yang tetap berjaya

3 min read

Harianjabar.com – Selasa Berkebaya di Berlin, Jerman, membuktikan kekuatan busana tradisional Indonesia di tempat yang jauh dari kampung halaman.Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Berlin Sartika Oegroseno mengemukakan, komunitas Selasa Berkebaya di Berlin turut memperkenalkan budaya Indonesia di Jerman lewat busana yang telah ada sejak beberapa abad silam.”Di Berlin ada komunitas Selasa Berkebaya, beberapa ibu-ibu pakai kebaya hari Selasa, lalu foto bersama di tempat bersejarah atau tempat wisata di Berlin,” kata Sartika dalam webinar bedah buku “Kebaya Melintasi Masa”, Minggu.”Ini memberikan kesan bahwa kebaya sampai detik ini tetap eksis dan diminati di dalam dan luar negeri,” lanjutnya.Sartika mengatakan, kebaya masih bertahan dan terus berkembang hingga saat ini karena faktor-faktor eksternal, termasuk keberanian para perancang yang menggabungkan ide modern dengan nilai klasik kebaya.

Busana ini juga dikembangkan sesuai aktivitas masyarakat masa kini yang lebih cocok dengan busana praktis, di mana ada orang-orang yang memadukan kebaya dengan bawahan modern seperti rok atau celana panjang agar lebih nyaman.

“Perkembangan bentuk itu menjadi titik eksistensi kebaya yang terhindar dari kepunahan selera zaman,” ujar dia.

Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Dr. Pudentia mengatakan kebiasaan suatu kelompok mengenakan kebaya pada hari-hari yang disepakati bisa membantu menyebarkan “virus” cinta busana tradisional Nusantara bisa dilakukan lewat kebiasaan suatu kelompok mengenakan kebaya pada hari-hari yang disepakati.

“Berkebaya adalah salah satu cara membangun identitas diri. Tanpa identitas, kita nyaris tidak bermakna dan tidak berdaya. Kita selalu berusaha menunjukkan identitas dan keberpihakan identitas tertentu. Penulis-penulis dalam buku ini menunjukkan upaya membangun identitas bangsa dengan cara menarik,” tutur Pudentia.

Kebaya sudah ada sejak abad ke-19 dan tidak hanya milik perempuan Jawa. Berdasarkan foto-foto arsip dari masa lampau, ada bukti bahwa kebaya juga dikenakan di Sumbawa hingga Pontianak.

Dr. Pudentia menjelaskan, kebaya digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari acara ritual yang formal, sebagai busana resmi untuk menerima tamu hingga busana informal sehari-hari untuk rekreasi.

Cerita pegiat kebaya
Dalam webinar tersebut, para perempuan yang gemar mengenakan kebaya turut berbagi cerita. Seniman dan mantan penyanyi cilik Sari Yok Koeswoyo mengisahkan dirinya mulai mengoleksi kain sejak dua dekade lalu. Bukan kain mahal yang pertama kali dia pakai, tapi kain yang memang ada di rumah. Lebih tepatnya kain yang ada di lemari ayah, Koesroyo Koeswoyo alias Yok Koeswoyo anggota grup band Koes Plus.

“Kalau ke tempat bude saya suka pinjam kain, dipakai untuk kemana-mana,” kata Sari.

Kini kebaya dan kain sudah menjadi keseharian Sari. Bukan cuma untuk acara formal seperti resepsi pernikahan atau acara-acara adat, tapi ke tempat-tempat seperti supermarket. Kendati demikian, ada penyesuaian gaya busana bila dirinya pergi untuk urusan santai. Kebaya digantikan dengan kaos yang nyaman, tapi bawahannya tetap kain.

“Kadang pakai sarung dan tank top dan sandal jepit saja kalau ke supermarket atau arisan sama teman,” ujarnya.

Sari merasa dirinya berubah drastis saat mengenakan tampilan lengkap kain beserta kebaya. Sebagai orang yang mengaku slengean dan apa adanya, pembawaannya otomatis berubah menjadi elegan setelah berkebaya lengkap dengan selop tinggi dan cepol.

“Kalau jalan, serasa ratu saja,” dia berseloroh.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *