Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

BI Umumkan Suku Bunga, Bisa Jadi “Bekal” Libur Lebaran Nih!

2 min read

Jakarta (harianjabar.com) – Jelang cuti bersama Hari Raya Idul Fitri pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam. Dari sisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus berakhir di zona merah, namun mata uang Garuda terpantau bergerak sebaliknya.

Bagaimana perdagangan terakhir hari ini sebelum lebaran? Mampukah ‘mereka’ happy ending? Selengkapnya mengenai pergerakan pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 dan 4 artikel ini.

Dari sisi IHSG pada perdagangan kemarin Senin (17/4/2023) bursa acuan Tanah Air ditutup terkoreksi 0,45% di posisi 6.787,58.

Nilai transaksi mencapai Rp 8,97 triliun dengan melibatkan 14 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,2 juta kali.

Pada perdagangan kemarin, IHSG sempat dibuka menguat namun dalam beberapa menit langsung melemah hingga ditutup koreksi. Sebanyak 282 saham melemah, 227 saham menguat, sementara 214 lainnya mendatar.

Dalam lima hari perdagangan IHSG terapresiasi 0,24%. Sementara itu, secara year to date (ytd) indeks masih membukukan pelemahan sebesar 0,92%.

Meski melemah, berdasarkan data Refinitiv mayoritas sektor menguat, hanya empat sektor yang turun dengan sektor Finansial memimpin penurunan sebesar 0,76%.

Perdagangan pasar saham di Indonesia yang hanya berlangsung selama dua hari pada pekan ini menjelang lebaran membuat suasananya cenderung sepi.

Pergerakan IHSG pun juga masih cenderung sideways, meski terlihat terkoreksi.

Selain itu, koreksi IHSG juga mengikuti pergerakan bursa global seperti Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu dan bursa Asia-Pasifik pada pada perdagangan kemarin.

Sementara dari mata pasar mata uang, penguatan rupiah dalam enam hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya terhenti.

Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda bahkan melemah cukup tajam, 0,61% ke 14.785/US$.

Setelah menguat tajam dalam lima pekan beruntun, koreksi yang dialami rupiah terbilang wajar, apalagi sebentar lagi pasar keuangan Indonesia akan libur panjang menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Indeks dolar AS yang rebound sejak Jumat pekan lalu memberikan tekanan bagi rupiah.

Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut menguat 0,54% pada perdagangan Jumat dan berlanjut lagi 0,1% pada perdagangan kemarin.

Tekanan bagi rupiah semakin besar setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan yang menurun jauh mencapai US$ 2,91 miliar.

Posisi surplus ini dicapai setelah impor Indonesia tercatat US$23,50 miliar lebih rendah dari ekspor sebesar US$ 20,59 miliar.

Surplus tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Februari 2023 yang mencapai US$ 5,48 miliar.

Surplus ini jauh lebih rendah dari konsensus pasar yang dihimpun Tim Riset dari 14 lembaga. Lembaga tersebut memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Maret 2023 sebesar US$ 4,19 miliar.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *