Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Teknik Baru Operasi Kebocoran Katup Jantung Anak

4 min read

Jakarta (harianjabar.com) – Katup mitral merupakan katup yang menghubungkan serambi kiri dan bilik kiri jantung. Kebocoran atau regurgitasi pada katup mitral menyebabkan fungsi pompa darah dari bilik kiri tidak optimal. Pada kondisi ini, beban kerja otot jantung menjadi lebih berat. Pompa darah dari jantung ke seluruh tubuh pun menjadi terhambat.

Kebocoran katup mitral mesti diatasi. Jika tak dilakukan, fungsi bilik jantung turun sehingga berisiko gagal jantung. Penanganan kebocoran katup mitral sebelumnya lewat operasi penggantian katup mitral dengan katup prostetik. Seiring perkembangan ilmu kedokteran, tindakan berganti dari penggantian katup menjadi perbaikan katup.

Perbaikan katup ini dinilai lebih bermanfaat dengan angka kematian dini dan kematian lanjut lebih rendah, serta perbaikan fungsi bilik kiri lebih baik. Operasi perbaikan katup juga dinilai bisa menekan risiko pembekuan darah, komplikasi terkait obat antikoagulan, serta infeksi jantung.

Akan tetapi, pada operasi katup mitral anak, sebagian besar teknik perbaikan katup mitral tidak dapat diterapkan secara optimal karena struktur katup pada anak sulit dimodifikasi. Hal itu disebabkan anatomi katup mitral pada anak lebih kecil, lebih tipis, dan sulit mengganti dengan katup buatan.

Teknik perbaikan katup mitral konvensional pada anak umumnya dilakukan dengan anuloplasti. Sayangnya, teknik ini berpotensi menimbulkan sisa kebocoran pada katup mitral. Insidensi sisa kebocoran atau regurgitasi residual katup mitral pascaoperasi mencapai 62,3 persen.

Merujuk pada data Unit Bedah Jantung Anak RS Pusat Jantung Harapan Kita pada periode tahun 2008-2017, dari 325 pasien anak yang mendapatkan operasi perbaikan katup mitral dengan cara konvensional, 49 persen di antaranya mengalami sisa kebocoran pascaoperasi.

Sisa kebocoran tersebut bisa terjadi karena daerah antara kedua daun katup mitral tidak bertemu secara optimal. Kebocoran katup mitral berisiko menimbulkan gagal jantung, rusaknya sel-sel darah, serta menghambat proses perbaikan fungsi otot jantung pascaoperasi.

Berangkat dari persoalan tersebut, dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskuler Budi Rahmat meneliti untuk menemukan teknik baru yang lebih baik dalam operasi perbaikan katup mitral pada anak. Ia pun merancang operasi perbaikan kebocoran mitral dengan teknik elevasi anulus posterior. Dari hasil risetnya, teknik itu terbukti efektif mengurangi sisa kebocoran katup mitral pascaoperasi.

Budi memaparkan hasil penelitiannya terkait efektivitas teknik elevasi anulus posterior dalam sidang terbuka promosi doktornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (11/7/2023). Penelitian itu digunakan oleh Budi sebagai bahan disertasinya.

“Teknik elevasi anulus posterior katup mitral dilakukan dengan mengangkat anulus posterior mitral sehingga kedua daun katup (katup anterior dan posterior) bertemu sempurna. Teknik ini belum pernah dilakukan pada operasi perbaikan katup mitral anak sebelumnya,” ujar Budi saat mempertahankan disertasinya. Budi lulus sebagai doktor program studi ilmu kedokteran dengan yudisium A IPK 3,92.

Proses penelitian

Adapun penelitian yang dilakukan Budi menggunakan desain randomized controlled trial atau uji coba terkontrol secara acak yang dilakukan pada pasien di Rumah Sakit (RS) Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita Jakarta. Penelitian dilakukan sejak Juli 2020 sampai Juni 2022.

Subyek yang diteliti yakni anak-anak dengan kebocoran katup mitral berusia 1 hari sampai 18 tahun yang menjalani operasi perbaikan katup mitral. Terdapat 64 pasien yang jadi subyek riset.

Dari jumlah itu dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapatkan perlakuan dengan teknik elevasi anulus posterior setelah perbaikan katup konvensional dilakukan, serta kelompok lain sebagai kelompok kontrol yang hanya menjalani teknik perbaikan katup konvensional saja.

Secara teknis, teknik elevasi anulus posterior katup mitra akan diberikan setelah prosedur konvensional perbaikan katup mitral selesai dilakukan. Evaluasi pada penelitian dilakukan secara berkala, yakni pada hari ke-0, hari ke-5, setelah dua minggu, serta tiga bulan pascaoperasi.

Pemeriksaan sisa kebocoran mitral dilakukan melalui ekokardiografi. Selain itu, data lain dari rekam medis yang juga diukur yakni lama waktu pasien terhubung dengan ventilator, lama rawat ICU, lama rawat inap, serta adanya Low cardiac output syndrome (LCOS) yang biasanya menjadi komplikasi pascaoperasi jantung. Pemantauan pada risiko gagal jantung juga dilakukan.

Dari hasil pemeriksaan dan evaluasi diketahui, kelompok yang mendapat intervensi dengan teknik elevasi anulus posterior menunjukkan penurunan bermakna dari sisa kebocoran mitral dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Setelah tiga bulan terlihat pula teknik elevasi anulus posterior dapat menjadi faktor protektif yang menurunkan risiko sisa kebocoran dibandingkan kelompok kontrol. Teknik ini juga dapat memperbaiki area koaptasi katup mitral.

Sementara dari luaran klinis, pada kelompok yang mendapat intervensi teknik baru dengan kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan bermakna pada kondisi metabolik gagal jantung dan penanda hemolisis (pecahnya membran sel darah merah).

“Teknik baru ini diharapkan menjadi pilihan teknik yang dapat diterapkan pada operasi katup mitral sehingga mengurangi morbiditas akibat regurgitasi mitral residual. Pertimbangan dan evaluasi dari ahli bedah jantung lainnya juga diperlukan dari penerapan teknik ini, termasuk pada populasi pasien dewasa,” kata Budi.

Guru Besar Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Bambang Budi Siswanto mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan Budi Rahmat merupakan inovasi baru dalam teknik operasi katup jantung anak.

Melalui modifikasi yang dilakukan dalam operasi, yakni dengan teknik elevasi anulus posterior, pasien bisa mendapatkan manfaat yang besar untuk mengurangi risiko kebocoran katup mitral pascaoperasi.

Ia pun berharap agar lebih banyak inovasi yang dihasilkan dalam bidang kedokteran di Indonesia, khususnya bidang bedah toraks dan kardiovaskular. Selain pada teknik operasi, inovasi diperlukan untuk meningkatkan upaya penapisan penyakit jantung bawaan pada anak di Indonesia.

“Tantangan yang dihadapi oleh Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang besar adalah banyak penyakit jantung bawaan yang tidak terdeteksi. Kita perlu teknik yang lebih maju dalam skrining jantung bawaan agar semakin banyak bayi-bayi yang lahir dengan kelainan jantung bawaan bisa terdeteksi sejak dini,” tuturnya.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *