Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Kisah Suami di Surabaya Bunuh Sahabat gegara Selingkuhi Istri

3 min read

Surabaya (harianjabar.com) – Agus Supriono sore itu mengumpulkan istri dan mertuanya. Pria yang karib disapa Jemblung itu juga menghadirkan Indra, teman masa kecilnya. Dalam pertemuan itu, Jemblung menanyakan maksud Indra yang sering membawa keluar istrinya

Pertanyaan Jemblung saat itu hanya dijawab enteng Indra, bahwa ia tak punya maksud apapun. Jemblung lalu menyebut dirinya sering memergoki Indra keluar membonceng istrinya. Merasa tersudut, Indra malah menantang balik Jemblung.

“Kon ngajak opo ae sembarang (kamu ngajak apa saja terserah),” tantang Indra ke Jemblung saat itu.

Tantangan itu rupanya tak diladeni Jemblung. Namun sejak saat itu, benih dendam karena cemburu ke Indra tumbuh di hati Jemblung. Pertemuan itu pun bubar tanpa menghasilkan apa-apa.

Dua minggu setelah pertemuan itu atau Rabu 13 Mei 2015, Jemblung terngiang dengan tantangan Indra saat sedang nongkrong dengan teman-temannya di Jalan Pecindilan. Ini karena teman-temannya memberitahu bahwa istrinya masih kerap keluar dengan Indra.

Darah di kepala Jemblung pun mendidih saat itu, ia langsung meminjam motor salah satu temannya dan pulang ke rumah. Ia lalu mengambil sebilah celurit dan memasukkannya ke dalam tas ransel dan keluar rumah lagi.

Sesampai di jalan Jalan Kapas Lor, Jemblung lalu bertemu dengan temannya bernama Japrak yang sedang nongkrong di ujung gang. Jemblung selanjutnya minta diantarkan dengan dibonceng motor ke Kapas Krampung, tempat kios Indra.

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Japrak lalu bersedia mengantarkan Jemblung. Sesampai di lokasi, Jemblung lalu minta Japrak menghentikan motor dan turun menuju kios Indra berada. Tanpa berkata-kata, Jemblung mengeluarkan celurit dari tas ranselnya. Japrak yang mengetahuinya langsung mencegah Jemblung.

“Lho lho lho… ojo, cak (Lho lho lho jangan, cak,” cegah Japrak yang kemudian diminta Jemblung agar pulang saja.

Japrak pun tak kuasa mencegah Jemblung. Celurit yang dipegang Jemblung lalu disabetkan ke Indra dari belakang mengenai tangannya. Sadar diserang, Indra lalu lari ke arah timur, namun sekitar 10 meter, ia terjatuh dan disusul dengan sabetan celurit lagi.

Puas membacok Indra, Jemblung kemudian berlari menuju Japrak yang memanggilnya. Ia lalu minta menggeber motor yang dikendarai Japrak menuju ke arah Jalan Kenjeran. Di sana, Jemblung lalu meminta Japrak untuk pulang jalan kaki.

Jemblung selanjutnya mengendarai motor menuju Benowo. Setiba di Jalan Gubeng Pojok, Jemblung mengganti bajunya yang ada noda darahnya. Baju itu kemudian ia buang dan melanjutkan ke rumah temannya, Jazuli di Benowo. Di sana, ia lalu menitipkan celurit miliknya kepada Jazuli dan kabur.

Sedangkan Indra yang masih hidup dengan terkapar bersimbah darah akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Tapi nasib berkata lain, tiga hari setelah mendapat perawatan, Indra dinyatakan meninggal dunia. Polisi kemudian memburu Jemblung.

Kamis 28 Mei 2015, polisi mengendus Jemblung berada di Semarang. Warga Kapas Baru itu kemudian ditangkap di sekitar Terminal Terboyo, Semarang sekitar pukul 01.30 WIB, Jemblung selanjutnya digelandang ke Surabaya dan menjalani pemeriksaan intensif.

Jemblung kemudian dihadirkan dalam press release Satreskrim Polrestabes Surabaya pada Kamis, 4 Juni 2015. Polisi menyebut motif utama pembunuhan yang dilakukan Jemblung karena asmara.

“Motifnya adalah cemburu. Tersangka curiga istrinya sering jalan bareng bersama korban,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya saat itu AKBP Takdir Mattanete kepada wartawan.

Pernyataan polisi ini pun diamini oleh Jemblung. Ia mengaku kesal lantaran Indra telah lancang merusak rumah tangganya. Meski mereka adalah teman di masa kecil, namun Jemblung tidak peduli.

“Istri saya memang dulu sempat pacaran dengan Indra. Tetapi akhirnya menikah dengan saya,” ujar Jemblung kala itu.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Jemblung kemudian dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Ia lalu jadi pesakitan di pengadilan.

Kamis, 17 Desember 2015, majelis hakim Pengadilan Surabaya kemudian menjatuhkan vonis 9 tahun pidana penjara. Hakim menilai Jemblung telah melanggar Pasal 338 KUHP.

Menyatakan terdakwa Agus Supriyono alias Jemblung bin Suwandi telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 9 tahun,” kata hakim ketua Ari Jiwantara saat membacakan amar putusannya.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *