Harianjabar.com

Media online jawa barat | media jawa barat | informasi jawa barat | berita jawa barat | berita bandung | gubernur jawa barat | walikota bandung | walikota bogor | info kuliner jawa barat | Media Jabar | Jabar Online news | Jabar news | Berita online jawa barat | Media online jabar | Info jabar | Harian Jabar.

Kenaikan Harga Cabai Dipicu Penurunan Produksi Akibat El Nino : Badan Pangan Nasional Gencar Stabilkan Pasokan Cabai

3 min read

harianjabar.com – Kenaikan harga cabai dalam periode terbaru menjadi fokus perhatian pemerintah, dengan Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menyoroti penurunan produksi cabai yang disebabkan oleh El Nino. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa panen raya cabai belum dimulai. Secara khusus, cabai rawit merah mengalami lonjakan harga yang signifikan di beberapa wilayah. Kesimpulannya, perubahan cuaca dan faktor musiman berdampak pada kenaikan harga cabai, yang memerlukan perhatian pemerintah dan upaya stabilisasi pasokan.

Berdasarkan informasi dari pedagang di Pasar Induk Kramat Jati Sabtu (4/11) harga cabai rawit merah rata-rata Rp 70.000/kg, sedangkan harga di pasar tradisional/pengecer sekitar Rp 80.000-Rp 90.000/kg. Bahkan di sejumlah daerah sudah tembus lebih dari Rp 100.000/kg.

“Dalam kondisi seperti saat ini tentunya kami di Badan Pangan Nasional kembali mengingatkan para kepala daerah untuk saling membangun kerja sama antar daerah (KAD) sehingga cabai di wilayah sentra produksi dan harganya stabil dapat mendistribusikan cabai ke daerah defisit atau daerah dengan harga cabai yang tinggi,” ujar Arief dalam keterangannya, dikutip Selasa (7/11/2023).

Badan Pangan Nasional telah mengambil tindakan intervensi untuk mengatasi kenaikan harga cabai di Jakarta dengan mengfacilitasi distribusi cabai dari wilayah produsen (sentra) ke wilayah konsumen (defisit). Tujuannya adalah untuk memastikan pasokan cabai yang memadai di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, sekaligus menjaga kendali terhadap harga cabai.

“Harga komoditas cabai yang mengalami kenaikan ini kita tekan dengan memfasilitasi pengangkutannya dari daerah-daerah yang masih berproduksi dan harganya relatif lebih rendah. Kita sudah identifikasi sentra cabai di luar Jawa seperti di Sulsel yang siap memasok ke wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya,” terangnya.

Sebagai langkah awal dalam upaya mengatasi kenaikan harga cabai, Badan Pangan Nasional telah mengirimkan 2,4 ton (80 coly) cabai rawit merah dari petani Sulawesi Selatan ke Jakarta pada tanggal 5 November 2023. Proses logistiknya difasilitasi langsung oleh Badan Pangan Nasional untuk intervensi harga cabai yang baru-baru ini mengalami kenaikan.

Selain itu, Arief juga mendorong pemerintah daerah juga bekerja sama untuk memenuhi stok cabai. Adanya penguatan kerja sama antar daerah (KAD) ini selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo yang meminta agar terbangun konektivitas yang membuat produksi pangan di daerah surplus terdistribusi ke daerah defisit secara merata untuk menjaga kestabilan harga.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan NFA I Gusti Ketut Astawa mengatakan segera setelah kedatangan cabai dari Sulsel, pihaknya bersinergi dengan Dinas KPKP DKI Jakarta, Dinas Perdagangan DKI Jakarta, Satgas Pangan, PD Pasar Jaya, IKAPPI dan PIKJ untuk melakukan intervensi langsung di 5 (lima) Pasar tradisional/pengecer di beberapa wilayah di Jakarta,

“Kedatangan tahap awal cabai dari Sulsel ini dipasok ke lima pasar tradisional/pengecer yaitu Pasar Inpres Senen 1 ton, Pasar Serdang 300 kg, Pasar Jembatan Lima 500 kg, Pasar Kemayoran, 300 kg dan Pasar Cipete sebanyak 300 kg. Selanjutnya Badan Pangan Nasional akan terus memasok CRM ke pasar-pasar turunan sampai harga kembali normal,” ujar Ketut.

“Fasilitasi Distribusi Pangan Cabai Rawit ini akan dilakukan setiap hari dan selektif mengingat ketersediaan produksi dan pasokan yang terbatas. Sedangkan Penetrasi ke pasar pengecer juga akan terus dilakukan ke pasar-pasar lainnya yang harganya tinggi dan/atau pasar mitra pedagang PIKJ,” tambahnya.

Berdasarkan data Panel Harga Pangan NFA tanggal 6 November 2023 harga rata-rata nasional CRM di tingkat produsen sebesar Rp 54.910/kg, berada di atas Harga Acuan Pembelian/Penjualan (HAP) sebesar Rp 25.000/kg – Rp 31.500/kg. Harga terendah Rp 38.000/kg di Sulawesi Selatan dan harga tertinggi Rp 68.750/kg di Sulawesi Utara.

Sedangkan di tingkat konsumen harga rata-rata nasional CRM Rp 75.774/kg, lebih tinggi dibandingkan HAP Rp 40.000/kg – Rp 57.000/kg. Adapun harga terendah Rp. 50.000 /kg di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan harga tertinggi Rp 100.233 di Kep. Bangka Belitung.

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *