HARIAN JABAR, JAKARTA — Science Film Festival 2026 resmi digelar di Indonesia pada 6 Oktober hingga 14 November 2026. Festival yang berlangsung di 70 kabupaten/kota ini mengangkat tema kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mengenalkan peluang dan tantangan teknologi kepada pelajar.
Diinisiasi oleh Goethe-Institut, festival tahun ini menghadirkan 20 film dari tujuh negara, yakni Jerman, Kolombia, Belanda, Argentina, Meksiko, Yunani, dan Korea Selatan. Selain menonton film, peserta juga mengikuti eksperimen sains interaktif secara langsung maupun daring.
Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, mengatakan festival ini mengajak generasi muda memahami pemanfaatan AI dalam sains, pendidikan, dan keberlanjutan.
“Melalui pemutaran film dari berbagai negara, kami ingin mendorong generasi muda Indonesia untuk mengeksplorasi sains secara menyenangkan,” ujar Constanze.
Pembukaan festival berlangsung di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, dengan dihadiri lebih dari 250 siswa. Mereka menyaksikan dua film asal Jerman yang membahas perubahan iklim di dunia digital dan penggunaan ChatGPT di ruang kelas.
Setelah pemutaran film, para siswa mengikuti eksperimen sains, di antaranya Water Bubble: Dancing Bubbles dan Color Vanishing: The Disappearing Color.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menekankan pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab, termasuk dengan memperhatikan transparansi, perlindungan data, dan integritas ilmiah.
Science Film Festival pertama kali digelar di Thailand pada 2005 dan hadir di Indonesia sejak 2010. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, festival ini diikuti 74.857 peserta dari lebih dari 200 sekolah di Indonesia.
Festival 2026 didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kedutaan Besar Jerman, Rolls-Royce, serta Universitas Negeri Jakarta.

