Sukabumi, HarianJabar.com – Di balik jalanan berliku menuju kawasan wisata Sukabumi, berdiri sebuah warung sederhana bernama Warung Mamayu. Meski tampilannya biasa saja, tempat makan ini sudah menjadi legenda lokal karena selalu ramai disinggahi, mulai dari komunitas biker yang melintas hingga pejabat daerah yang sengaja mampir.

Kisah Sang Pemilik
Warung Mamayu dikelola oleh Ibu Mamayu, perempuan tangguh yang sudah lebih dari 20 tahun berjualan. Dengan senyum ramahnya, ia selalu menyambut pengunjung bak keluarga sendiri.
“Awalnya cuma jualan kopi dan gorengan kecil-kecilan. Lama-lama, orang minta nasi liwet, sop buntut, sampai ikan bakar. Alhamdulillah, dari situ warung makin dikenal,” ujar Ibu Mamayu sambil menata meja kayu di warungnya.
Menu Andalan yang Melekat di Hati
Daya tarik utama warung ini ada pada menu khas Sunda yang sederhana tapi penuh cita rasa. Nasi liwet hangat, sambal dadak, ikan bakar, sop buntut, hingga tempe mendoan menjadi favorit pengunjung.
Banyak biker mengaku mampir ke Warung Mamayu karena rasa masakannya “seperti makan di rumah sendiri.” Tak sedikit pula pejabat yang diam-diam datang untuk sekadar melepas penat sambil menyeruput kopi tubruk buatan Ibu Mamayu.
Tempat Nongkrong yang Jadi Cerita
Setiap akhir pekan, suasana Warung Mamayu makin semarak. Puluhan motor gede berderet di depan warung, sementara di dalam terdengar tawa pengunjung yang menikmati sajian hangat.
“Di sini bukan cuma makan, tapi juga silaturahmi. Banyak teman saya ketemu lagi setelah lama nggak ngopi bareng,” ujar seorang biker dari Jakarta yang rutin mampir saat touring.
Dari Warung Sederhana ke Ikon Kuliner Sukabumi
Meski terbilang sederhana, Warung Mamayu kini sudah dianggap sebagai salah satu ikon kuliner pinggir jalan di Sukabumi. Bahkan, beberapa pejabat daerah mengaku sengaja mampir ke warung ini setiap kali melintas.
“Kalau nggak makan di Warung Mamayu, rasanya ada yang kurang,” kata seorang pejabat yang sempat ditemui wartawan.
Inspirasi dari Warung Mamayu
Bagi Ibu Mamayu, warungnya bukan sekadar tempat usaha, tetapi juga ruang pertemuan orang dari berbagai latar belakang. Dari biker hingga pejabat, semua melebur jadi satu di meja kayunya.
“Kalau rezeki itu datangnya dari Allah. Saya cuma berusaha jujur, ramah, dan bikin orang betah. Itu saja,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
