Bandung, HarianJabar.com 8 September 2025 — Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung yang terus tumbuh, ada satu tempat di mana waktu seolah berjalan lebih lambat. Kebun Binatang Bandung, yang berdiri sejak era kolonial tahun 1933, kini menyimpan lebih banyak hening daripada tawa, lebih banyak kesunyian daripada riuh pengunjung.
Namun, sesekali, kesunyian itu pecah—oleh jeritan anak-anak yang tertawa melihat harimau berjalan mondar-mandir, oleh suara burung rangkong yang melengking dari atas pohon, atau oleh obrolan turis asing yang penasaran dengan komodo yang bermalas-malasan di balik kaca tebal.
Tempat ini seperti napas panjang yang ditahan di tengah kota yang terlalu cepat.

Kebun Binatang dalam Transisi Zaman
Kebun Binatang Bandung, atau yang sering disebut Bonbin Bandung, masih berdiri kokoh di kawasan Lebak Siliwangi, tak jauh dari kampus ITB. Namun, di balik gerbangnya, terpampang tantangan zaman.
Kunjungan menurun drastis, terutama sejak pandemi COVID-19 yang mengubah cara orang berwisata. Meskipun sudah pulih secara bertahap, angka kunjungan harian belum kembali ke masa jayanya. Pengelola mengakui, biaya perawatan satwa yang terus naik dan pergeseran tren wisata keluarga menjadi tantangan utama.
“Bukan lagi soal menarik massa, tapi bagaimana kami tetap bertahan sambil tetap menjaga kesejahteraan satwa,” ujar seorang petugas kebun binatang kepada kami, dengan nada lirih.
Satwa yang Masih Setia, Meski Manusia Pergi
Di tengah sunyinya lorong-lorong kebun binatang, satwa tetap menjalani hidupnya. Harimau Sumatra tetap berjalan bolak-balik di kandangnya, seolah tanpa peduli apakah ada yang menonton atau tidak. Orangutan duduk termenung di sudut, memandang langit seperti memikirkan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Mereka tak tahu soal tiket masuk, tak peduli siapa yang menjabat wali kota. Tapi hidup mereka, diam-diam, sangat bergantung pada kebijakan manusia.
Beberapa kandang tampak usang, sebagian lainnya diperbaiki pelan-pelan. Program adopsi satwa oleh masyarakat dan donasi digital mulai digencarkan. Namun efeknya masih belum cukup untuk menutupi semua kebutuhan.
Sesekali Ramai, Tapi Sunyi Tetap Lebih Menang
Akhir pekan kadang membawa pengunjung: rombongan sekolah dasar, keluarga kecil, atau turis asing yang penasaran dengan satwa endemik Indonesia. Tawa anak-anak kadang terdengar riuh di dekat kandang gajah atau taman reptil.
Namun pada hari kerja, suasana kembali lengang. Kursi-kursi di bawah pohon besar kosong. Penjual es krim menunggu dengan sabar. Tiket masuk Rp50.000 terasa mahal bagi sebagian warga, padahal bagi kebun binatang, jumlah itu tak cukup menutupi biaya pakan harian harimau.
Apa Arti Kebun Binatang Hari Ini?
Di era digital dan wisata cepat saji, apa tempat kebun binatang masih relevan? Bagi sebagian orang, jawabannya tidak. Tapi bagi sebagian lain, terutama anak-anak dan para pemerhati konservasi, kebun binatang adalah jendela pertama untuk mengenal keragaman hayati.
Masalahnya bukan apakah kebun binatang harus ada atau tidak. Tapi bagaimana mengelola kebun binatang secara etis, edukatif, dan berkelanjutan. Dan itu adalah pertanyaan yang hingga kini belum semua kebun binatang di Indonesia bisa jawab dengan lantang.
Sunyi yang Tak Sepenuhnya Sepi
Kebun Binatang Bandung bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah potongan sejarah, sisa warisan masa lalu yang masih bertahan di tengah arus kota modern. Di tempat itu, manusia dan satwa masih bisa saling menatap, meski diam-diam saling bertanya: masih adakah ruang untuk kita bersama di masa depan?
Dan di tengah kesunyian yang sesekali pecah itu, mungkin tersimpan pesan yang belum kita dengar dengan utuh.
