Kebumen, HarianJabar.com – Ratusan penari muda memadati panggung utama di Alun-alun Pancasila, Kebumen, saat Kebumen Fest 2025 resmi dibuka pada 23 Agustus. Mereka bukan hanya sekadar penampil, melainkan pembawa pesan budaya dalam sebuah tarian kolosal bertajuk “Suwardana Kabumian”—sebuah pertunjukan yang dirancang tak hanya megah secara visual, tetapi juga sarat makna sejarah dan filosofi lokal.

Kisah Tentang Kemakmuran dan Jati Diri Daerah
Tarian ini mengangkat dua elemen penting: Suwardana, yang bermakna “kemakmuran besar”, dan Kabumian, yang merujuk pada Pangeran Bumidirdjo, tokoh bersejarah yang identik dengan asal-usul Kebumen. Dalam durasi sekitar 11 menit, penonton diajak menyusuri narasi visual tentang identitas, alam, dan cita-cita masyarakat Kebumen.
Koreografi disusun oleh Tiara Intan Sekar Kinanti bersama tim kreatif dari Bravery Dancer Yogyakarta, grup yang sebelumnya dikenal lewat ajang pencarian bakat nasional. Tim hanya terdiri dari empat koreografer, namun mampu membina 240 penari pelajar dari berbagai jenjang pendidikan—sebuah pencapaian yang luar biasa dalam hal logistik dan artistik.
“Kami ingin tarian ini jadi bentuk cinta generasi muda terhadap tanah kelahirannya,” ujar Tiara, koreografer utama.
Gerak yang Menyatukan
Para penari dibagi ke dalam enam kelompok yang mewakili unsur khas Kebumen: Cepetan, Lawet, Ombak, Lampor, Nyi Roro Kidul, dan elemen tambahan untuk properti visual. Setiap gerak disusun tidak hanya estetis, tapi juga menyampaikan simbol tentang kekuatan alam dan semangat masyarakat pesisir.
Yang membuat tarian ini istimewa bukan sekadar koreografi, tapi kebersamaan. Mereka datang dari sekolah-sekolah yang berbeda, dari usia dan latar belakang yang beragam, namun dipersatukan oleh semangat yang sama.
“Senang banget bisa tampil di festival sebesar ini. Latihannya capek, tapi seru dan penuh teman baru,” ujar Kamila, salah satu penari dari Sanggar Kesya.
Ruang Kolaborasi untuk Anak Muda
Kebumen Fest 2025 bukan sekadar perayaan produk UMKM, tetapi juga menjadi ruang aktualisasi dan pelestarian budaya. Pemerintah daerah, komunitas seni, dan sekolah-sekolah bahu-membahu menciptakan platform kreatif yang inklusif.
Koordinator festival menyebutkan bahwa seluruh pertunjukan budaya disiapkan tanpa tiket masuk, sebagai bentuk keterbukaan ruang seni bagi seluruh masyarakat. Dukungan dari tim drone show dan lighting profesional juga melengkapi pengalaman menonton yang tak terlupakan.
Budaya yang Menghidupkan
Tarian Suwardana Kabumian bukan hanya menjadi simbol pembuka festival, tapi juga penanda bahwa budaya lokal bisa tampil megah tanpa harus kehilangan akar. Ini adalah ajakan agar generasi muda semakin dekat dengan warisan daerahnya dan melihatnya bukan sebagai masa lalu, melainkan sebagai inspirasi masa depan.
