SEOUL – 23 Juli 2025 Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, pemerintah Korea Selatan mengumumkan rencana uji coba pembukaan perbatasan bagi warga sipil yang ingin melakukan kunjungan wisata terbatas ke Korea Utara. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya diplomatik terbaru untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea dan membangun “jembatan budaya” antarwarga.
Program yang diberi nama “Peace Corridor” ini rencananya akan dimulai pada musim gugur tahun ini, dengan zona kunjungan terbatas di sekitar kawasan Kaesong dan beberapa lokasi bersejarah lainnya di wilayah utara perbatasan.
“Kami ingin memulai pendekatan yang lebih manusiawi dan progresif dalam membina hubungan antarwarga di dua Korea,” ujar Menteri Unifikasi Korsel, Kim Yong-hae, dalam konferensi pers di Seoul.
Dibuka untuk Wisata Budaya, Bukan Politik
Menurut pemerintah Korea Selatan, kunjungan wisata ini hanya dibuka untuk kalangan tertentu, termasuk akademisi, pelajar sejarah, jurnalis, dan kelompok budaya. Kegiatan akan difokuskan pada tur edukatif, kunjungan ke situs warisan, dan pertemuan komunitas yang disetujui kedua pihak.
Setiap kunjungan akan dilakukan dalam pengawasan ketat dan bekerja sama dengan pemerintah Korea Utara, serta melibatkan pengamanan dari pasukan perdamaian gabungan.
Korea Utara Setuju dalam Diam
Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Pyongyang, laporan dari media resmi Korea Utara mengisyaratkan adanya persetujuan diam-diam atas program ini. Beberapa pejabat Korea Utara dilaporkan telah bertemu dengan delegasi Seoul di Panmunjom untuk membahas rute aman dan titik masuk perbatasan.
Seorang analis politik dari Universitas Yonsei, Lee Eun-jin, menilai langkah ini sebagai terobosan diplomatik yang berisiko namun strategis.
“Ini bisa jadi jalan pembuka untuk normalisasi hubungan antar-Korea yang sempat beku pasca-tahun 2020,” ujarnya.
Respons Publik dan Dunia Internasional
Kebijakan ini mendapat tanggapan beragam dari masyarakat Korea Selatan. Sebagian menyambut positif karena dinilai membawa harapan baru bagi perdamaian dan reunifikasi, namun sebagian lain menganggapnya terlalu cepat dan berisiko.
Di sisi lain, negara-negara seperti Jepang dan Amerika Serikat memantau langkah ini dengan cermat. Jubir Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa “apapun yang membawa stabilitas di Semenanjung Korea patut didukung selama tidak mengganggu resolusi internasional.”
Program wisata lintas perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara bisa menjadi babak baru dalam sejarah hubungan dua negara yang telah terpecah selama lebih dari 70 tahun. Meski masih dalam tahap awal dan penuh tantangan, langkah ini mengisyaratkan bahwa jalan menuju perdamaian mungkin tidak lagi mustahil—asal ada keberanian untuk memulainya.
