Medan, 25 Juli 2025 – Harapan baru membuncah dari tepian Danau Toba. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyatakan optimismenya bahwa Geopark Kaldera Toba akan kembali meraih kartu hijau dari UNESCO setelah sebelumnya sempat mendapat peringatan kartu kuning. Penilaian akhir dari lembaga dunia ini dijadwalkan berlangsung pada akhir Juli 2025.
“Kami yakin, kerja keras semua pihak akan membuahkan hasil. Geopark Toba akan tetap menjadi bagian dari UNESCO Global Geoparks,” tegas Bobby.
Dari Kartu Kuning Menuju Reputasi Hijau
Pada 2023, Geopark Toba mendapat kartu kuning dari UNESCO, sebuah peringatan keras bahwa status keanggotaan bisa dicabut jika empat rekomendasi utama tidak segera dipenuhi:
- Minimnya edukasi dan riset sains geologi.
- Tidak aktifnya badan pengelola.
- Kurangnya pelatihan geopark untuk masyarakat.
- Minimnya papan informasi dan fasilitas interpretasi di geosite.
Kartu kuning ini menjadi tamparan serius. Namun juga menjadi pemicu kebangkitan.
2025: Tahun Pemulihan dan Aksi Nyata
Memasuki 2025, Sumatera Utara tancap gas. Pemprov Sumut membentuk kembali badan pengelola Geopark Toba, memperbaiki infrastruktur geosite, hingga menggandeng pihak swasta lewat program CSR untuk pendanaan dan edukasi publik.
Tim dari UNESCO sendiri—yakni Jose Brilha dari Portugal dan Jeon Yongmun dari Korea Selatan—telah melakukan evaluasi lapangan pada pertengahan Juli.
Sinyal positif pun mulai terlihat.
Kesiapan Total: 16 Geosite Disulap, Edukasi Diperkuat
Geopark Toba kini memiliki 16 geosite yang tersebar di 7 kabupaten sekitar Danau Toba. Mulai dari Parapat, Balige, Silalahi hingga Sipinsur, semuanya dipoles ulang dengan pendekatan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Program pelatihan geopark untuk pelaku wisata dan UMKM lokal juga gencar dilakukan.
“Yang berubah bukan hanya tampilan geositenya, tapi juga cara masyarakat melihat potensi daerahnya. Ini transformasi dari dalam,” ujar Sekda Sumut Togap Simangunsong.
Kenapa Kartu Hijau Penting?
Status kartu hijau dari UNESCO bukan sekadar simbol. Ia adalah pengakuan global yang membuka jalan bagi:
- Peningkatan wisata internasional
- Peningkatan pendapatan asli daerah (PAD)
- Peningkatan citra global Sumatera Utara
- Pertumbuhan UMKM lokal berbasis budaya dan geowisata
Contohnya, setelah Geopark Batur Bali kembali dapat kartu hijau, kunjungan wisata meningkat 35% per tahun. PAD melonjak, dan UMKM lokal berkembang pesat.
Tapi Tantangan Belum Selesai…
Meski progres signifikan telah dilakukan, beberapa hal masih jadi sorotan:
- Konsistensi badan pengelola
- Pemeliharaan fasilitas interpretasi
- Peningkatan kapasitas masyarakat lokal dalam konservasi & pemanduan wisata
Jika tidak dijaga, capaian ini bisa kembali stagnan atau bahkan anjlok seperti pada 2023.
Optimisme yang Realistis
Gubernur Bobby menegaskan bahwa Geopark Toba adalah milik rakyat Sumatera Utara, bukan sekadar proyek pemerintah. Maka dari itu, pelibatan komunitas, pelaku pariwisata, dan anak muda lokal menjadi kunci utama keberlanjutan.
“Kami ingin Geopark Toba bukan hanya lolos UNESCO, tapi jadi model pembangunan berkelanjutan berbasis alam dan budaya,” tegasnya.
Kini, publik menanti hasil akhir evaluasi. Apakah Geopark Toba bisa kembali hijau? Semua mata tertuju ke Danau Toba — simbol kebanggaan alam Indonesia — yang sedang bersiap kembali bersinar di panggung dunia.
