Cusco, Peru — Siapa yang bisa menolak pesona Gunung Pelangi di Peru? Dengan warna-warni alami bak sapuan kuas pelukis, Gunung Vinicunca menjelma menjadi salah satu destinasi paling Instagramable di dunia. Tapi, di balik keindahannya yang memesona, gunung ini menyimpan kisah kontroversial — pernah ditutup untuk wisatawan karena dianggap terlalu “berbahaya dan sakral”.
Yuk, kita telusuri mengapa gunung ini sempat ‘diharamkan’ bagi pelancong, dan apa yang membuatnya begitu istimewa.
1. Warna-warni yang Justru Tanda Bahaya Alam
Pelangi di gunung ini bukan ilusi optik, melainkan hasil tumpukan mineral seperti besi (merah), tembaga (hijau), dan belerang (kuning). Sayangnya, keindahan ini menjadi magnet eksploitasi. Di awal 2010-an, area ini sempat dilirik untuk aktivitas pertambangan. Penduduk lokal pun menolak, karena takut gunung mereka dirusak dan warisan leluhur hilang.
2. Tempat Suci, Bukan Sekadar Spot Foto
Bagi suku asli Quechua, Vinicunca adalah tempat suci yang digunakan dalam ritual-ritual kuno. Saat turis berdatangan tanpa panduan budaya, banyak warga menganggap aktivitas tersebut mencemari spiritualitas gunung. Maka sempat ada tekanan agar wisata ke sana dibatasi, bahkan dihentikan.
3. Wisata ‘Instan’ yang Memakan Korban
Setelah viral di media sosial, Gunung Pelangi jadi destinasi dadakan. Ribuan orang berbondong-bondong ke sana tanpa sadar bahwa trekking ke ketinggian 5.200 mdpl bukan hal sepele. Beberapa wisatawan dilaporkan terkena altitude sickness hingga pingsan. Jalur pendakian yang belum ramah pun memicu kekhawatiran.
4. Alam Mulai Menjerit
Lonjakan turis yang tidak terkendali menyebabkan tanah menjadi gundul, erosi meningkat, dan sampah berserakan. Padahal, wilayah Andes ini termasuk dalam zona ekosistem rentan. Warga lokal akhirnya mendorong pemerintah untuk membatasi wisata dan mengatur ulang sistem kunjungan.
5. Jalan Tengah: Wisata Berbasis Komunitas
Kini, Gunung Pelangi dibuka kembali dengan pendekatan baru: wisata bertanggung jawab. Turis wajib mengikuti jalur resmi, membayar kontribusi ke komunitas lokal, dan menggunakan pemandu bersertifikat. Hasilnya? Alam tetap lestari, dan masyarakat sekitar ikut sejahtera.
“Kami tak ingin gunung ini rusak oleh popularitas. Sekarang, semua bisa menikmatinya dengan cara yang lebih bijak,” ujar Luis Callo, warga lokal sekaligus pemandu resmi.
Gunung yang Tak Sekadar Indah
Gunung Pelangi bukan hanya destinasi visual, tapi juga pelajaran penting tentang menjaga harmoni antara manusia dan alam. Ia mengingatkan kita bahwa keindahan bukan untuk dikejar secara serampangan, melainkan dihargai, dihormati, dan dilindungi.
