Jakarta, HarianJabar.com 23 Agustus 2025 — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, Presiden Prabowo Subianto berdiri tegap di atas podium JIExpo Kemayoran. Di hadapannya, ratusan guru dan kepala sekolah berjejer rapi, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut orang nomor satu di republik ini.
Lalu sebuah pengumuman menggema:
“Per September 2025, kita akan memiliki 165 Sekolah Rakyat yang beroperasi aktif di seluruh Indonesia.”
Tepuk tangan riuh menyambut pengumuman itu. Bukan hanya angka yang dibanggakan, tetapi harapan yang ditanamkan. Di balik jumlah 165 itu, ada ribuan anak dari keluarga kurang mampu, yang kini mendapat kesempatan bersekolah, bermimpi, dan mengubah nasib.

Apa Itu Sekolah Rakyat?
Sekolah Rakyat adalah program unggulan era Prabowo-Gibran yang menyasar anak-anak dari kelompok ekonomi terbawah (Desil 1–3) berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Tak sekadar bangunan dan ruang kelas, Sekolah Rakyat adalah kompleks pendidikan berasrama. Setiap sekolah dilengkapi fasilitas:
- Ruang belajar
- Asrama
- Kantin sehat
- Klinik kesehatan
- Ruang ibadah
- Area olahraga dan budaya
“Anak-anak kita harus belajar dengan nyaman, sehat, dan bermartabat,” ujar Prabowo.
Dari Mimpi Menjadi Aksi
Awalnya, banyak yang skeptis. Membuka sekolah gratis dan berasrama di tengah keterbatasan fiskal? Mustahil, kata sebagian.
Program ini dijalankan lintas kementerian—dipimpin Kementerian Sosial, dan didukung penuh oleh Kemendikbudristek, Kemenkes, serta TNI-Polri untuk jangkauan daerah terpencil.
Lebih dari Sekadar Sekolah
Yang membedakan Sekolah Rakyat dari sekolah biasa bukan hanya karena gratis. Tapi karena program ini adalah bentuk restorasi keadilan sosial.
“Kita ingin negara hadir di mana rakyat tidak mampu bersuara,” ucap Prabowo.
“Tidak boleh lagi ada anak Indonesia yang putus sekolah hanya karena miskin.”
Mencetak Generasi Berdikari
Dalam pidato pembekalannya, Presiden menyebut guru Sekolah Rakyat sebagai “pejuang revolusi mental.” Mereka bukan hanya mengajar, tapi juga membentuk karakter. Mereka bukan sekadar pendidik, tapi pembawa cahaya ke wilayah yang selama ini dilupakan.
“Ini bukan proyek politik. Ini proyek peradaban,” tegas Prabowo.
Menatap Indonesia Emas 2045
Program ini bukan akhir, tapi awal dari perubahan. Jika 200 sekolah berhasil berdiri pada 2026, artinya pemerintah akan mampu menyelamatkan puluhan ribu anak setiap tahun dari rantai kemiskinan turun-temurun.
Dan bukan tidak mungkin, dari Sekolah Rakyat lahir pemimpin masa depan Indonesia: dokter dari Sumba, ilmuwan dari Maluku, jurnalis dari pedalaman Kalimantan, atau bahkan presiden dari pelosok Papua.
