Selayar, HarianJabar.com 26 Agustus 2025 — Suasana tegang sempat menyelimuti Mapolres Kepulauan Selayar pada malam 23 Agustus 2025, ketika sekelompok anggota TNI dari Kodim 1415 Selayar mendatangi kantor kepolisian untuk meminta kejelasan atas penanganan sebuah kasus kecelakaan lalu lintas. Ketegangan memuncak saat salah satu oknum melepaskan tembakan ke udara, namun situasi berhasil dikendalikan tanpa adanya korban jiwa.
Peristiwa ini menjadi sorotan, bukan hanya karena insiden tembakan, tetapi juga karena menyentuh aspek sensitif: hubungan antarlembaga penegak hukum di daerah.

Awal Mula: Kecelakaan yang Memicu Ketegangan
Insiden bermula pada 12 Agustus 2025, ketika seorang anggota Polres Selayar berinisial Aipda MT diduga terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di kawasan Benteng, yang menyebabkan dua perempuan mengalami luka-luka. Kedua korban disebut merupakan keluarga dari anggota TNI aktif. Peristiwa ini menimbulkan keresahan di kalangan keluarga korban, terutama karena dianggap belum ada langkah tegas terhadap Aipda MT.
Namun pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum terhadap Aipda MT tetap berjalan. Ia telah ditahan untuk pemeriksaan oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Selayar, sebagai bentuk komitmen transparansi penegakan hukum.
Puncak Ketegangan: Tembakan Dilepaskan di Mapolres
Pada 23 Agustus malam, sekitar 20 hingga 30 anggota TNI mendatangi Mapolres untuk meminta kejelasan atas proses hukum tersebut. Di tengah situasi yang memanas, salah satu anggota TNI melepaskan tiga tembakan ke udara, yang memicu kepanikan sementara. Namun, dalam waktu singkat situasi berhasil diredam.
Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Didid Imawan, menyatakan bahwa insiden ini telah disikapi dengan cepat melalui koordinasi langsung dengan Dandim 1415/Selayar, Letkol Czi Yudo Harianto. Keduanya memastikan bahwa situasi kembali kondusif dan hubungan antarlembaga tetap solid.
“Kami langsung ambil langkah komunikasi dan klarifikasi agar tidak berkembang menjadi konflik lebih besar. Ini bentuk kedewasaan kedua institusi,” ujar AKBP Didid.
Solusi Damai: Restorative Justice Jadi Jalan Tengah
Dalam perkembangan terbaru, kasus ini telah diselesaikan melalui pendekatan restorative justice, di mana kedua belah pihak sepakat menempuh jalur damai. Aipda MT disebut telah bertanggung jawab secara moral dan material, termasuk membayar biaya pengobatan korban dan mengganti kerusakan kendaraan yang ditabraknya.
Dandim 1415 Selayar, Letkol Yudo Harianto, juga menekankan pentingnya menyelesaikan persoalan secara dialogis dan profesional.
“Tidak semua emosi harus dibalas dengan tindakan reaktif. Proses hukum tetap jalan, tapi kita juga harus melihat aspek kemanusiaan dan keadilan,” tegasnya.
Refleksi: Sinergi atau Rawan Gesekan?
Insiden ini menjadi bahan refleksi penting tentang relasi TNI dan Polri di tingkat daerah. Ketegangan semacam ini dapat terjadi ketika komunikasi antarlembaga tidak berjalan optimal, terutama dalam kasus yang menyangkut anggota dari masing-masing institusi.
Namun, respons cepat pimpinan TNI–Polri di Selayar patut diapresiasi. Koordinasi yang dilakukan segera setelah kejadian membuktikan bahwa kedua lembaga mampu menahan eskalasi konflik dan mengutamakan kepentingan masyarakat.
Tantangan Menjaga Soliditas di Tengah Ujian Emosional
Tembakan di Mapolres Selayar bukan hanya tentang peluru yang dilepaskan, tetapi tentang pentingnya komunikasi, transparansi, dan tanggung jawab bersama. Ketegangan bisa muncul kapan saja, tetapi cara penangananlah yang membedakan apakah suatu lembaga benar-benar kuat dan profesional.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa sinergi TNI–Polri tetap terjaga — meski harus melalui jalan berliku dan emosi yang memuncak.
