St. Louis, HarianJabar.com 5 September 2025 – Perusahaan kedirgantaraan dan pertahanan, Boeing Defense, mengumumkan akan mulai merekrut tenaga kerja pengganti untuk menggantikan lebih dari 3.200 pekerja yang melakukan aksi mogok sejak awal Agustus. Langkah ini menyusul belum tercapainya kesepakatan kontrak baru antara Boeing dan serikat pekerja International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM) District 837.

Akar Aksi Mogok
Pemogokan dimulai pada 4 Agustus 2025, setelah mayoritas pekerja menolak tawaran kontrak empat tahun dari perusahaan. Proposal Boeing mencakup peningkatan gaji umum sebesar 20%, kenaikan tahunan, dan penambahan hari libur. Namun, serikat menilai tawaran itu tidak mengakomodasi kebutuhan pekerja secara menyeluruh, terutama menyangkut bonus awal dan skema pensiun.
Rekrutmen Pengganti dan Dampak Produksi
Boeing menyatakan akan menggelar job fair untuk mencari pekerja baru pada 16 September mendatang. Dalam pernyataan resmi, perusahaan menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya menjaga kelangsungan produksi pada program-program strategis, seperti F-15, F/A-18, dan JDAM (Joint Direct Attack Munition).
Meskipun proses produksi tetap berjalan, sumber internal menyebut adanya perlambatan dalam beberapa lini akibat kekurangan tenaga kerja terlatih.
“Kami menghargai para pekerja kami, namun kami juga memiliki kewajiban untuk memenuhi komitmen pertahanan nasional,” ujar juru bicara Boeing Defense.
Serikat: “Langkah Sepihak”
Di sisi lain, Ketua IAM International, Brian Bryant, menyayangkan keputusan Boeing yang dinilai sepihak dan berpotensi memperpanjang konflik. Ia menilai bahwa merekrut pengganti permanen selama mogok masih berlangsung bukan hanya kontraproduktif, tapi juga bisa melemahkan kepercayaan antara perusahaan dan pekerja.
“Daripada mencari orang baru, seharusnya Boeing kembali ke meja perundingan. Kami ingin solusi yang adil, bukan pengabaian terhadap suara pekerja,” kata Bryant dalam pernyataan tertulis.
Dialog Masih Tertunda
Setelah beberapa kali negosiasi tidak membuahkan hasil, perusahaan menyatakan belum ada rencana pertemuan lanjutan hingga setelah Labor Day (Hari Buruh di AS). Hal ini membuat proses pencarian solusi atas konflik ketenagakerjaan ini semakin tidak menentu.
Pengamat hubungan industrial menilai langkah Boeing dapat dibaca sebagai strategi menekan serikat agar menerima tawaran yang sudah diajukan. Namun, ada pula yang memperingatkan potensi hilangnya tenaga kerja berpengalaman yang sulit digantikan dalam waktu singkat.
