Subang, HarianJabar.com – Aksi tawuran antar remaja kembali menelan korban jiwa. Peristiwa tragis itu terjadi di jalur Pantura, Minggu dini hari (14/9/2025). Seorang remaja berinisial R (17) meregang nyawa setelah mengalami luka parah akibat sabetan senjata tajam.
Insiden bermula dari saling ejek dan tantangan di media sosial, yang kemudian berkembang menjadi ajakan tawuran. Dua kelompok remaja yang sebagian besar masih duduk di bangku SMA dan SMK sepakat bertemu di jalan raya Pantura untuk “adu keberanian”.

Kronologi Kejadian
Menurut keterangan polisi, kedua kelompok sudah saling melempar komentar provokatif melalui akun Instagram dan Facebook. Ajakan untuk bertemu pun disepakati pada Sabtu malam menjelang dini hari.
“Awalnya hanya saling tantang di medsos, tapi kemudian mereka benar-benar bertemu di jalur Pantura. Tawuran berlangsung singkat tapi brutal,” ungkap Kapolres Subang, AKBP Yudi Rahman.
Dalam bentrokan tersebut, R terkena sabetan senjata tajam di bagian dada. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong.
Polisi Amankan Belasan Remaja
Pihak kepolisian bergerak cepat dan berhasil mengamankan 14 remaja yang diduga terlibat. Mereka kini menjalani pemeriksaan intensif. Beberapa barang bukti berupa celurit, pedang, dan motor juga diamankan.
“Kami tidak akan main-main. Tawuran yang mengancam nyawa akan diproses hukum sesuai undang-undang,” tegas Kapolres.
Tangisan Keluarga Korban
Di rumah duka, suasana haru menyelimuti keluarga R. Sang ibu tak kuasa menahan tangis, menyesalkan anaknya harus tewas sia-sia.
“Anak saya baru mau ujian sekolah. Kenapa harus begini? Anak-anak sekarang gampang terprovokasi,” ucapnya lirih.
Peran Medsos Jadi Sorotan
Kasus tawuran ini kembali menyoroti peran media sosial sebagai pemicu konflik antar remaja. Konten ejek-mengejek, unggahan tantangan, hingga pamer senjata kerap beredar dan memicu adrenalin remaja untuk mencari pengakuan.
Pakar kriminologi dari Universitas Padjadjaran menilai perlunya pengawasan orang tua dan sekolah terhadap aktivitas anak di dunia maya.
“Tawuran modern bukan lagi soal geng jalanan, tapi sudah bermula dari dunia digital,” jelasnya.
Ajakan Stop Kekerasan Remaja
Pemerintah daerah bersama aparat kepolisian berjanji akan memperketat patroli di titik-titik rawan tawuran, termasuk jalur Pantura. Tokoh masyarakat pun mengimbau agar para orang tua lebih memperhatikan pergaulan anak-anaknya.
“Kita tidak ingin generasi muda rusak hanya karena hal sepele. Tawuran bukan solusi, justru merusak masa depan,” kata seorang tokoh pemuda Subang.
