Cianjur, HarianJabar.com – Warga pesisir Cidaun, Kabupaten Cianjur, digegerkan dengan hilangnya dua orang nelayan yang tidak kembali dari melaut pada Rabu (17/9/2025). Perahu yang mereka gunakan ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan selatan, diduga akibat mesin yang mati saat diterjang gelombang tinggi.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kedua nelayan tersebut berangkat melaut pada Selasa malam menggunakan perahu motor kecil. Namun hingga keesokan paginya mereka tak kunjung kembali ke pantai. Rekan-rekan nelayan yang curiga kemudian melakukan pencarian, hingga menemukan perahu mereka terombang-ambing dalam keadaan terbalik sekitar 5 mil dari bibir pantai.
“Kami menemukan perahu korban sudah terbalik, mesinnya mati. Barang-barang mereka sebagian masih ada di dalam perahu. Diduga mereka terhempas ke laut saat ombak besar datang,” ujar Andri (38), nelayan setempat.
Tim SAR gabungan dari Basarnas Bandung, Polairud, dan relawan lokal langsung diterjunkan untuk melakukan pencarian. Hingga sore hari, tim masih menyisir perairan menggunakan kapal cepat dan peralatan selam. Cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi menjadi tantangan utama dalam operasi pencarian.
Kepala Kantor SAR Bandung, Jumaril, membenarkan adanya laporan dua nelayan hilang tersebut.
“Saat ini kami sudah menurunkan tim penyelamat. Fokus pencarian dilakukan di radius 5 hingga 10 mil laut dari lokasi ditemukannya perahu korban,” katanya.
Peristiwa ini membuat keluarga korban diliputi kecemasan. Sejumlah warga terlihat berkumpul di bibir pantai, menunggu kabar terbaru dari tim pencari.
“Kami berharap keduanya bisa segera ditemukan, entah dalam kondisi apa pun. Yang penting ada kepastian,” ungkap Dewi, kerabat salah satu nelayan yang hilang, dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi cuaca di selatan Cianjur memang tengah tidak bersahabat. BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang tinggi dan angin kencang yang berpotensi membahayakan aktivitas melaut. Aparat mengimbau para nelayan agar lebih berhati-hati dan menunda keberangkatan jika kondisi laut tidak memungkinkan.
Kasus ini menambah daftar panjang tragedi nelayan yang hilang di perairan selatan Jawa Barat. Selain faktor cuaca ekstrem, keterbatasan sarana keselamatan seperti pelampung dan radio komunikasi masih menjadi persoalan serius yang kerap dihadapi nelayan tradisional.
