Bekasi, HarianJabar.com – Nike hari ini dikenal sebagai salah satu merek olahraga paling berpengaruh di dunia. Dengan ikon Swoosh yang sederhana namun penuh makna, Nike bukan sekadar menjual sepatu atau pakaian olahraga, melainkan juga menjual filosofi kemenangan yang menginspirasi jutaan orang.
Namun, perjalanan menuju panggung global tidak terjadi dalam semalam. Di balik kesuksesan itu, ada kisah perjuangan dua sosok: Phil Knight dan Bill Bowerman.
Awal Mula: Blue Ribbon Sports

Ceritanya dimulai pada tahun 1962, ketika Phil Knight, seorang mahasiswa bisnis dari Universitas Stanford, melakukan perjalanan ke Jepang. Di sana, ia menemukan sepatu buatan pabrik Onitsuka Tiger (sekarang Asics) yang kualitasnya dinilai sangat baik dan jauh lebih murah dibanding produk Amerika saat itu.
Knight lalu membuat kesepakatan untuk menjadi distributor sepatu Onitsuka di Amerika Serikat. Bersama pelatih atletiknya di Universitas Oregon, Bill Bowerman, ia mendirikan perusahaan bernama Blue Ribbon Sports (BRS) pada tahun 1964.
Awalnya, bisnis ini dijalankan dengan sangat sederhana—sepatu dijual langsung dari bagasi mobil di acara-acara olahraga. Namun, berkat ketekunan dan strategi pemasaran cerdas, BRS perlahan mulai dikenal di kalangan atlet muda.

Lahirnya Nike dan Ikon Swoosh
Pada awal 1970-an, hubungan BRS dengan Onitsuka mulai retak. Knight dan Bowerman kemudian memutuskan untuk menciptakan merek sepatu mereka sendiri.
Tahun 1971, lahirlah merek baru bernama Nike, diambil dari nama dewi kemenangan Yunani. Logo ikonis Swoosh diciptakan oleh Carolyn Davidson, seorang mahasiswa desain grafis, dengan bayaran hanya 35 dolar AS—yang kelak menjadi salah satu logo paling terkenal di dunia.
Terobosan Teknologi dan Pemasaran
Bowerman, sebagai pelatih, terus bereksperimen mencari inovasi terbaik untuk sepatu lari. Salah satu terobosannya lahir dari cetakan wafel—menginspirasi desain sol sepatu Nike Waffle Trainer yang meledak di pasaran.

Di sisi lain, Knight membangun strategi pemasaran yang berbeda dari kompetitor. Nike mulai menggandeng atlet top dunia, menekankan bahwa sepatu mereka bukan sekadar produk, melainkan bagian dari gaya hidup dan mental juara.
Puncaknya, kampanye ikonik “Just Do It” pada tahun 1988 mengubah Nike menjadi fenomena budaya global.
Dari Oregon ke Dunia
Kini, Nike telah menjelma menjadi perusahaan multinasional dengan pendapatan puluhan miliar dolar per tahun. Produknya meliputi sepatu, pakaian, perlengkapan olahraga, hingga teknologi kebugaran.
Meski telah menjadi raksasa, Nike tetap berpegang pada filosofi awalnya: mendorong setiap orang untuk berani melangkah, berkompetisi, dan meraih kemenangan.
