Garut, HarianJabar.com – Sebuah sengketa lahan kebun mangga di Kabupaten Garut berakhir tragis setelah pecah perkelahian berdarah antara dua kelompok warga pada Minggu (30/9/2025). Insiden terjadi di kawasan pedesaan Kecamatan Banyuresmi, Garut, dan mengakibatkan satu orang tewas serta beberapa lainnya luka-luka.
Menurut keterangan polisi, peristiwa bermula dari perselisihan hak garap kebun mangga yang telah lama menjadi sumber konflik antarwarga. Ketegangan memuncak ketika kedua pihak saling klaim kepemilikan pohon dan hasil panen.
Kronologi Kejadian
Saksi mata menyebut, adu mulut yang terjadi di kebun sekitar pukul 10.00 WIB berubah menjadi perkelahian fisik. Sejumlah orang membawa senjata tajam tradisional seperti golok dan arit. Bentrokan berlangsung singkat namun memakan korban.
- Satu orang meninggal dunia akibat luka bacok di bagian kepala.
- Dua orang luka berat kini dirawat di RSUD dr. Slamet Garut.
- Beberapa lainnya mengalami luka ringan.

Polisi Amankan Situasi
Kapolres Garut AKBP (nama fiktif) menyampaikan bahwa pihaknya langsung turun ke lokasi untuk mengamankan situasi. Sejumlah barang bukti berupa senjata tajam disita, dan empat orang ditahan untuk dimintai keterangan.
“Kasus ini sedang kami dalami. Kami akan menelusuri kepemilikan lahan dan memproses pidana bagi pelaku kekerasan,” ujarnya.
Latar Belakang Sengketa
Kebun mangga yang disengketakan diketahui memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama saat musim panen. Klaim kepemilikan antara dua keluarga besar yang sudah berlangsung bertahun-tahun disebut sebagai akar masalah. Mediasi sebelumnya pernah dilakukan pemerintah desa, namun gagal mencapai kesepakatan.
Reaksi Masyarakat
Warga sekitar berharap pemerintah desa bersama aparat hukum segera menyelesaikan sengketa tanah tersebut. “Jangan sampai masalah kebun jadi makan korban lagi. Kami minta ada kepastian hukum,” kata salah satu tokoh masyarakat setempat.
Peristiwa sengketa kebun mangga di Garut yang berujung darah menjadi peringatan penting bahwa konflik agraria masih rentan memicu kekerasan. Pemerintah diminta hadir lebih kuat dalam penyelesaian sengketa tanah agar tragedi serupa tidak terulang.
