Gaza, 21 Juli 2025 – Dunia kembali berduka atas tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza. Sebanyak 93 warga sipil Palestina dilaporkan tewas saat tengah mengantri bantuan pangan di dekat perbatasan Zikim, wilayah utara Gaza, yang selama beberapa bulan terakhir menjadi pusat kekhawatiran dunia.
Menurut keterangan saksi dan tim medis setempat, kerumunan warga yang sedang menunggu distribusi bantuan dari PBB tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Suara tembakan terdengar, disusul oleh kepanikan massal. Pihak militer Israel mengklaim telah melepaskan tembakan peringatan setelah terjadi kericuhan dalam antrian.
Bencana Kemanusiaan yang Semakin Parah
Insiden ini menambah panjang daftar korban jiwa dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari sembilan bulan. Banyak di antara korban adalah perempuan dan anak-anak, yang terjebak dalam antrean untuk mendapatkan bahan pangan pokok seperti roti, tepung, dan air bersih.
Sementara itu, serangan udara dan darat terus terjadi di wilayah Deir al-Balah dan Khan Younis. Gempuran tersebut menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit darurat dan pusat logistik bantuan internasional.
Generasi yang Terancam Putus Sekolah
Lebih dari 650.000 siswa di Gaza kini kehilangan akses terhadap pendidikan, akibat hancurnya gedung sekolah dan kekurangan tenaga pengajar. Dalam laporan UNICEF terbaru, disebutkan bahwa ribuan anak telah mengalami trauma psikologis dan tidak lagi menerima pendidikan dasar selama berbulan-bulan.
“Kami tak lagi punya ruang kelas. Yang tersisa hanya reruntuhan dan ketakutan,” ujar Najwa Hamdani, seorang guru SD di Rafah yang kini menjadi relawan distribusi makanan.
Bayi Meninggal karena Kelaparan
Tragedi lain yang mengiris hati datang dari RS Darurat Gaza Tengah, di mana sejumlah bayi dilaporkan meninggal dunia karena kekurangan susu formula dan nutrisi dasar. Kelangkaan bantuan dan blokade terhadap jalur distribusi makanan menyebabkan gizi buruk akut di kalangan bayi dan balita.
“Seorang bayi berusia 7 bulan meninggal dalam pelukan ibunya karena kami tidak memiliki cukup susu atau alat bantu medis,” ujar seorang dokter yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dunia Internasional Bereaksi, Tapi Lamban?
Meski tragedi ini mengundang reaksi keras dari berbagai lembaga internasional, termasuk WHO, UNICEF, dan UNHCR, belum ada tindakan nyata dan cepat dari negara-negara besar untuk menghentikan kekerasan dan membuka akses bantuan kemanusiaan.
Sejumlah analis menyebut krisis Gaza sebagai “bencana kemanusiaan terbesar di abad ke-21”, di mana embargo politik dan kepentingan geopolitik memperlambat aksi penyelamatan.
Harapan dari Aksi Solidaritas Global
Masyarakat sipil di berbagai belahan dunia mulai melakukan aksi solidaritas, mulai dari penggalangan dana, boikot produk tertentu, hingga protes damai di depan kantor kedutaan besar Israel dan organisasi internasional.
Namun, di tengah penderitaan yang belum berujung, warga Gaza hanya berharap satu hal: damai dan hidup dengan layak.
