Jakarta, HarianJabar.com — Indonesia kini menghadapi krisis lingkungan yang mengkhawatirkan. Setiap tahunnya, diperkirakan lebih dari 20 juta ton sampah mencemari laut Indonesia, menjadikan negara ini sebagai salah satu penyumbang limbah laut terbesar di dunia.
Data terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa sebagian besar limbah berasal dari daratan, terutama plastik rumah tangga, sampah industri, dan limbah pariwisata. Limbah tersebut akhirnya terbawa aliran sungai menuju laut, merusak ekosistem dan mengancam kehidupan biota laut.
“Kita sedang menghadapi darurat sampah laut. Jika tidak segera ditangani, kerusakan akan bersifat permanen,” tegas Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar, Jum’aat (1/8/2025)
Dampak Serius: Dari Ekonomi hingga Ekosistem
Sampah yang mengendap di perairan tak hanya mengancam kehidupan laut seperti penyu, ikan, dan terumbu karang, tapi juga berdampak langsung pada sektor perikanan, pariwisata, dan kesehatan masyarakat.
Lorem Ipsum has been the industry\’s standard dummy text ever since the 1500s.
“Nelayan kita merugi karena tangkapan ikan berkurang. Pariwisata pun terganggu karena pantai-pantai dipenuhi sampah plastik,” ujar [nama pakar], ahli kelautan dari LIPI.
Bahkan, mikroplastik telah ditemukan dalam tubuh ikan yang dikonsumsi masyarakat, menimbulkan kekhawatiran terhadap ancaman jangka panjang bagi kesehatan manusia.
Upaya Pemerintah dan Tantangannya
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, termasuk Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL), serta mendorong gerakan pengurangan plastik sekali pakai di berbagai daerah. Namun, implementasi di lapangan dinilai belum konsisten.
“Kami butuh sinergi dari seluruh elemen—pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat,” tambah Novrizal.
Lembaga swadaya masyarakat juga mendorong pemberlakuan regulasi lebih tegas terhadap industri penghasil sampah, serta investasi pada teknologi daur ulang yang efisien.
