Madrid, HarianJabar.com– Pemerintah Spanyol menunjukkan komitmen kuat terhadap kemanusiaan dengan mengevakuasi 44 anak asal Gaza pada Senin (12/8), guna mendapatkan perawatan medis mendesak di sejumlah rumah sakit di Spanyol. Anak-anak tersebut merupakan korban luka dalam konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok Hamas.
Evakuasi ini dilakukan dalam kerja sama antara Kementerian Luar Negeri Spanyol, Kementerian Kesehatan, dan berbagai organisasi kemanusiaan internasional. Anak-anak tersebut diterbangkan dari Kairo, Mesir, setelah berhasil menyeberang melalui perbatasan Rafah yang dibuka secara terbatas.

“Anak-anak ini datang dengan luka berat, trauma mendalam, dan kondisi medis yang tidak bisa ditangani di Gaza. Kami menerima mereka sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan solidaritas global,” ujar Menteri Kesehatan Spanyol, María Jesús Montero.
Fokus pada Anak-Anak dengan Luka Perang Serius
Ke-44 anak tersebut mengalami berbagai kondisi serius, mulai dari luka bakar, amputasi, cedera akibat ledakan, hingga gangguan psikologis. Banyak dari mereka telah kehilangan anggota keluarga dalam serangan udara dan blokade yang melumpuhkan layanan kesehatan di Gaza.
Setibanya di Madrid, anak-anak langsung dibawa ke beberapa rumah sakit rujukan di Barcelona, Valencia, dan Madrid. Mereka juga akan mendapatkan pendampingan psikologis serta perawatan jangka panjang.
Upaya Spanyol di Tengah Ketegangan Global
Langkah ini menuai apresiasi dari berbagai lembaga internasional, termasuk UNICEF dan WHO, yang selama ini kesulitan menyalurkan bantuan medis secara langsung ke Gaza akibat situasi keamanan yang tidak menentu.
“Langkah Spanyol menjadi contoh konkret solidaritas internasional yang dibutuhkan saat dunia menyaksikan penderitaan anak-anak di Gaza,” kata perwakilan UNICEF di Eropa.
Sementara itu, pemerintah Spanyol menegaskan bahwa misi ini bersifat kemanusiaan dan tidak politis, serta akan terus membuka opsi untuk evakuasi tambahan jika memungkinkan.
Harapan Baru di Tengah Puing Perang
Bagi anak-anak yang berhasil keluar dari zona perang, misi ini menjadi harapan baru. Salah satu anak bernama Amal (9), yang kehilangan kaki kirinya akibat serangan udara, kini tersenyum untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu hidup di reruntuhan rumahnya.
“Saya ingin bisa jalan lagi, dan nanti kalau besar jadi dokter,” ujarnya dengan mata berbinar, dikutip dari laporan media Spanyol.

