HarianJabar.com – Jakarta, 11 Juni 2025
Harga Bitcoin (BTC) melonjak tajam hampir 9% dalam sepekan terakhir dan mencapai level USD110.000 pada 10 Juni 2025. Ini merupakan lonjakan signifikan yang menempatkan Bitcoin hanya sekitar 2% di bawah rekor tertingginya, yakni USD111.300 yang tercapai pada Mei lalu.
Kenaikan ini terjadi di tengah mencairnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok (China) — dua negara yang secara historis memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi global.
Hubungan Diplomatik AS-China Membaik: Investor Menyambut Positif
Dalam pertemuan tingkat tinggi yang digelar awal Juni di Tokyo, Presiden AS dan Presiden China menyatakan komitmen bersama untuk:
- Menstabilkan rantai pasok teknologi global.
- Mengurangi hambatan dagang bilateral.
- Memperkuat komunikasi diplomatik dan militer untuk mencegah konflik terbuka.
Pernyataan bersama itu langsung disambut positif oleh pelaku pasar, termasuk investor kripto. Kepercayaan pasar terhadap risiko global yang lebih rendah mendorong arus modal masuk ke aset berisiko seperti kripto, saham teknologi, dan komoditas.
Analisis Kenaikan Harga Bitcoin
Bitcoin sempat mengalami koreksi hingga ke level USD100.900 pada awal Juni. Namun, dalam lima hari terakhir, harga mulai bangkit, didorong oleh:
| Faktor Pendukung Utama | Dampaknya |
|---|---|
| Redanya ketegangan geopolitik | Meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko seperti Bitcoin |
| Stabilitas dolar AS | Meningkatkan daya tarik aset non-fiat |
| Sinyal dovish dari The Fed | Menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga, mendukung aset spekulatif |
| Minat investor institusional | Permintaan BTC dari hedge fund dan institusi meningkat |
Menurut analis HarianJabar, Bitcoin tetap menjadi aset kripto paling dominan dalam menghadapi perubahan makroekonomi. Ketika ketidakpastian mereda, kripto cenderung rebound lebih cepat dibanding aset lain.
Pandangan Pelaku Pasar
“Kinerja Bitcoin dalam seminggu ini menunjukkan bahwa pasar kripto sangat peka terhadap stabilitas geopolitik dan sentimen global,” ujar Dian Pramudya, analis keuangan dari Bina Investama Futures.
Ia menambahkan bahwa jika hubungan AS-China terus membaik, ada potensi harga Bitcoin menembus USD115.000 sebelum akhir kuartal ini.
Sementara itu, beberapa investor ritel menyatakan bahwa mereka kembali masuk pasar setelah melihat sinyal kuat dari pergerakan harga dalam tiga hari terakhir.
Implikasi bagi Investor Indonesia
Kenaikan harga Bitcoin berdampak langsung pada ekosistem aset digital di tanah air:
- Volume perdagangan di beberapa platform lokal seperti Indodax dan Tokocrypto naik hingga 15% dalam dua hari terakhir.
- Minat generasi muda terhadap aset digital kembali meningkat, terlihat dari tren pencarian “Bitcoin hari ini” dan “harga kripto” di Google Trends Indonesia.
Namun, OJK dan Bappebti tetap mengingatkan bahwa investasi kripto mengandung risiko tinggi dan hanya boleh dilakukan oleh investor yang paham profil risikonya.
Ringkasan Fakta
| Item | Detail |
|---|---|
| Harga Bitcoin tertinggi pekan ini | USD110.000 (10 Juni 2025) |
| Kenaikan mingguan | +8,9% |
| Pemicu utama | Perbaikan hubungan AS–China |
| Posisi terhadap rekor tertinggi | Kurang dari 2% di bawah rekor Mei 2025 (USD111.300) |
| Respon pasar Indonesia | Volume transaksi kripto meningkat, terutama Bitcoin dan Ethereum |
Kesimpulan
Perbaikan hubungan bilateral antara AS dan China menjadi katalis kuat bagi pergerakan pasar global, termasuk pasar kripto. Kenaikan Bitcoin menandakan kembali menguatnya kepercayaan investor terhadap aset digital, terutama di saat volatilitas geopolitik mereda.
Bagi masyarakat Indonesia yang tertarik dengan investasi kripto, momen seperti ini patut dicermati — dengan tetap mengedepankan prinsip do your own research (DYOR) dan manajemen risiko yang bijak.
