Jakarta – Ada yang menarik dari pertemuan antara Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (8/7/2025). Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi antarpejabat, tapi membahas dua isu penting yang menjadi urat nadi warga Bekasi: pasokan air baku dan nasib Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Dalam pertemuan yang berlangsung hampir satu jam itu, Tri menyampaikan langsung kebutuhan tambahan pasokan air baku ke Kota Bekasi dari DKI Jakarta. Permintaan itu bukan tanpa alasan. Wilayah Bekasi terus berkembang, penduduk bertambah, tapi pasokan air bersih tak selalu lancar. Tri menekankan, Bekasi butuh bantuan konkret agar masyarakat bisa menikmati air bersih secara merata.
“Warga Bekasi butuh air bersih yang stabil. Kalau pasokan air baku ditambah, kami bisa optimalkan pengolahan lewat PDAM. Air itu hak dasar,” ujar Tri.
Bukan Sekadar Buang Sampah: Bekasi Minta Komitmen DKI
Tak kalah penting, Tri juga menyinggung kelanjutan kontrak TPST Bantar Gebang, yang selama puluhan tahun menjadi lokasi pembuangan sampah Jakarta. Meski jadi tempat “buangan”, Tri menegaskan Bekasi tak ingin hanya diberi beban.
“Kalau DKI terus buang sampah ke Bekasi, harus ada kompensasi yang adil. Jangan cuma buang, bantu bangun juga. Jalan rusak karena truk sampah, warga kami yang kena dampaknya,” tegas Tri.
Tri meminta agar DKI tak hanya memperpanjang kontrak TPST, tetapi juga turut membangun jalur khusus truk sampah, memperbaiki infrastruktur sekitar, dan memperhatikan kesehatan warga di sekitar zona pembuangan.
Gubernur DKI Respons Positif
Menanggapi usulan Tri, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan siap melanjutkan kerja sama dan menindaklanjuti usulan teknis yang disampaikan. Ia mengakui, hubungan Jakarta dan Bekasi harus didasari prinsip saling menghormati dan menguntungkan.
“Jakarta dan Bekasi itu satu ekosistem. Kalau Jakarta buang sampah, ya harus ikut bertanggung jawab. Kita terbuka untuk evaluasi dan perbaikan,” kata Pramono.
Menuju Kolaborasi Metropolitan yang Setara
Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa kerja sama antarwilayah di kawasan megapolitan seperti Jakarta–Bekasi tak bisa lagi dilakukan sepihak. Permasalahan seperti sampah, air, dan transportasi harus dibahas dalam semangat kolaborasi.
Tri Adhianto berharap dialog ini bisa membuka jalan untuk kontrak baru yang lebih adil dan pembangunan infrastruktur bersama.
“Kalau beban dibagi, manfaat juga harus dibagi. Kita bangun masa depan Jabodetabek yang saling kuat dan berkelanjutan,” tutupnya.
