Jakarta, 22 Juli 2025 – Menyusul serangkaian kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah padat penduduk di Jakarta dalam sepekan terakhir, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, melalui Sekretaris Kabinet Pramono Anung, menekankan pentingnya penguatan sistem pencegahan kebakaran skala lingkungan. Salah satu usulan konkret yang digaungkan adalah penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di setiap Rukun Tetangga (RT) di Ibu Kota.
“Kita tidak bisa menunggu kebakaran berikutnya terjadi. Mulai sekarang, satu RT satu APAR adalah upaya minimal yang harus dijalankan,” ujar Pramono saat ditemui di Balaikota Jakarta, Senin (21/7).
Rentetan Kebakaran Picu Kewaspadaan Tinggi
Sepanjang dua pekan terakhir, setidaknya tujuh peristiwa kebakaran besar melanda wilayah Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat. Mayoritas terjadi di kawasan padat penduduk dengan sistem kelistrikan yang tidak tertata dan penggunaan alat masak tradisional.
Peristiwa terbaru terjadi di kawasan Kampung Rawa, Johar Baru, yang menghanguskan lebih dari 50 rumah dan membuat ratusan warga mengungsi.
“Banyak penyebab kebakaran ini berasal dari korsleting listrik dan tabung gas bocor. Kami menilai perlu ada pendekatan struktural hingga tingkat RT/RW,” jelas Pramono.
Langkah Nyata: Edukasi dan Sarpras Pemadam
Program “Satu RT, Satu APAR” dinilai sebagai langkah awal menuju sistem ketahanan lingkungan terhadap kebakaran. Pramono menyebut bahwa selain pengadaan APAR, pelatihan penggunaan alat tersebut dan simulasi penanganan darurat akan digelar secara rutin bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta.
Pemerintah juga akan menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), perusahaan BUMN, dan swasta melalui program CSR untuk membantu penyediaan APAR di wilayah yang belum mampu membiayai sendiri.
Respons Warga dan Pengamat
Program ini disambut positif oleh banyak warga Jakarta. Kepala RW di daerah Jatinegara, Arif Hidayat, menyatakan dukungannya.
“Sudah saatnya warga bisa bergerak cepat sebelum api membesar. Tapi kami butuh pendampingan dan sosialisasi agar alat itu benar-benar efektif,” katanya.
Sementara itu, pengamat tata kota Yayat Supriyatna menilai langkah ini penting namun perlu didukung dengan penataan ulang sistem kelistrikan di kawasan padat.
Harapan ke Depan: Jakarta Lebih Tangguh Hadapi Risiko
Dalam jangka panjang, Pramono berharap program ini tidak hanya menjadi respons sementara, tetapi menjadi bagian dari budaya hidup aman dan tanggap bencana di Jakarta.
“Kita tidak ingin hanya bereaksi, tapi bertransformasi menjadi kota yang siap menghadapi risiko apa pun,” pungkasnya.
