Jakarta, 23 Juli 2025 β Dunia kembali dikejutkan dengan kabar bahwa Amerika Serikat (AS) diam-diam memindahkan senjata nuklir B61-12 ke Inggris untuk pertama kalinya sejak 2008. Fakta ini memunculkan tanda tanya besar: Ada apa di balik kembalinya bom nuklir AS ke Eropa Barat?
Fasilitas Nuklir RAF Lakenheath Diaktifkan Lagi
RAF Lakenheath, pangkalan udara milik Angkatan Udara Inggris di Suffolk, Inggris, kini kembali menjadi sorotan. Berdasarkan dokumen Pentagon dan laporan investigasi, pangkalan ini telah mengalami renovasi besar-besaran sejak 2023, termasuk pembangunan “surety dormitory” β fasilitas penyimpanan senjata nuklir berstandar tinggi.
Pakar militer menduga, proyek ini merupakan bagian dari persiapan penempatan kembali bom nuklir taktis AS jenis B61-12, yang dapat digunakan oleh jet tempur generasi kelima seperti F-35A Lightning II.
βKami melihat jejak logistik yang kuat β mulai dari pembangunan hanggar baru, pelatihan pilot F-35A, hingga penerbangan C-17 dari pangkalan nuklir AS ke Inggris. Semua ini bukan kebetulan,β ujar Dr. Alex Harrow, peneliti keamanan internasional dari Kingβs College London.
Kembali ke Inggris Setelah 17 Tahun
Langkah AS memindahkan kembali bom nuklir ke Inggris mengakhiri “jeda” selama 17 tahun. Senjata terakhir ditarik dari Lakenheath pada 2008, seiring meredanya ancaman Perang Dingin. Namun kini, dengan meningkatnya ketegangan global β terutama konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Laut China Selatan, dan instabilitas Timur Tengah β NATO tampaknya ingin kembali memperkuat lini baratnya.
“Ini bukan hanya tentang pertahanan. Ini adalah pesan politik yang keras kepada Moskow dan Beijing,” kata Fiona Edwards, pengamat kebijakan luar negeri dari Stop The War Coalition.
Pemerintah Bungkam, Publik Bertanya
Baik pemerintah Inggris maupun Amerika tetap memegang kebijakan “no confirm, no deny” dalam isu nuklir. Namun kelompok masyarakat sipil, termasuk Campaign for Nuclear Disarmament (CND), telah menuntut klarifikasi dari Perdana Menteri Keir Starmer.
βPublik Inggris berhak tahu jika ada bom nuklir AS di tanah mereka. Ini bukan keputusan teknisβini keputusan strategis yang menyangkut nyawa warga sipil,β tegas Kate Hudson, Sekjen CND.
Dilema Etika dan Hukum Internasional
Penempatan senjata nuklir AS di luar negeri memunculkan pertanyaan serius soal kesesuaian dengan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Meski secara teknis senjata itu tetap di bawah kontrol AS, kehadiran fisiknya di tanah asing dapat ditafsirkan sebagai pelanggaran semangat non-proliferasi.
Selain itu, pengaktifan kembali senjata nuklir juga berisiko memicu perlombaan senjata baru β baik dari Rusia, Tiongkok, maupun negara-negara lain yang selama ini bersikap moderat terhadap kebijakan nuklir.
Ancaman Global atau Strategi Bertahan?
Sebagian kalangan menilai langkah AS ini sebagai strategi bertahan terhadap ancaman nyata. Namun lainnya menyebut ini sebagai provokasi berbahaya di tengah situasi geopolitik yang mudah meledak.
βKetika dunia seharusnya fokus pada perdamaian dan diplomasi, pengiriman bom nuklir justru membuat dunia kembali ke era ketakutan,β kata Profesor Noam Becker dari Universitas Jenewa.
Pengiriman bom nuklir AS ke Inggris adalah langkah strategis yang menyimpan banyak lapisan kepentingan: militer, politik, dan simbolik. Di balik diamnya pemerintah, ada ketegangan yang nyata antara kekuatan global. Dunia mungkin tidak sedang berperang terbuka, tetapi tanda-tanda Perang Dingin generasi baru sudah mulai terasa.
