Bandung, Harianjabar.com — Sungai Cikapundung yang mengalir melintasi jantung Kota Bandung dilaporkan mengalami pencemaran berat akibat tingginya kandungan bakteri Escherichia coli (E-Coli). Temuan ini diungkap dalam hasil pemantauan kualitas air oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung bekerja sama dengan sejumlah akademisi dan komunitas peduli lingkungan.
Kandungan E-Coli dalam air Sungai Cikapundung disebut berada jauh di atas ambang batas baku mutu untuk perairan umum. Bakteri tersebut biasanya berasal dari limbah manusia atau hewan yang mencemari saluran air.
Lorem Ipsum has been the industry\’s standard dummy text ever since the 1500s.
Penyebab Diduga dari Limbah Rumah Tangga dan Saluran Tidak Terstandarisasi
Kepala DLHK Kota Bandung, Rina Dewianti, mengatakan bahwa salah satu penyebab utama tingginya E-Coli di Cikapundung adalah pembuangan limbah domestik, terutama dari permukiman padat penduduk yang berada di bantaran sungai.
“Banyak rumah tidak memiliki septic tank yang layak, sehingga limbah langsung dibuang ke selokan atau ke sungai,” ujar Rina dalam konferensi pers, Selasa (29/7). Ia juga menyebutkan bahwa saluran air dari rumah tangga yang tidak memiliki pengolahan awal turut memperburuk kualitas air sungai.
Ancaman Bagi Kesehatan dan Lingkungan
Menurut ahli mikrobiologi dari Universitas Padjadjaran, Dr. Irwan Salim, tingginya kandungan E-Coli dapat menjadi ancaman serius bagi masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar sungai atau yang memanfaatkan air sungai untuk aktivitas sehari-hari.
“Paparan E-Coli dalam jumlah tinggi bisa menyebabkan gangguan pencernaan, infeksi saluran kemih, bahkan risiko diare berat, terutama bagi anak-anak,” jelas Irwan. Ia menyarankan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas mandi atau mencuci dengan air sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu.
Langkah Penanganan dan Edukasi Warga
DLHK Kota Bandung mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, seperti edukasi warga mengenai pentingnya sistem sanitasi tertutup, pembangunan IPAL komunal di kawasan permukiman padat, serta pemetaan titik-titik sumber pencemar di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung.
Pemerintah Kota juga akan bekerja sama dengan komunitas lingkungan dan akademisi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengembangkan teknologi penyaringan air sederhana yang bisa digunakan di tingkat rumah tangga.
Peran Warga Sangat Dibutuhkan
Sementara itu, komunitas Cikapundung Riverspot mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap dampak pembuangan limbah ke sungai. “Sungai bukan tempat sampah atau toilet umum. Kita butuh kolaborasi agar sungai bisa kembali bersih dan menjadi sumber kehidupan,” ujar ketua komunitas, Asep Firmansyah.
