Cianjur, Harianjabar.com — Gunung Padang, situs megalitikum tertua di Indonesia yang menyimpan jejak peradaban kuno, baru-baru ini menjadi sorotan bukan karena temuan arkeologis, melainkan karena aksi tak pantas sekelompok pengunjung yang terekam melakukan ritual menyimpang di area situs.
Kejadian itu mencuat setelah video berdurasi singkat beredar di media sosial, memperlihatkan beberapa orang tengah melakukan aktivitas tak lazim di area yang selama ini dikenal sebagai tempat sakral dan dijaga oleh adat setempat. Dalam video itu, tampak mereka membakar kemenyan, membaca mantra tidak lazim, bahkan diduga melakukan tindakan tak senonoh dengan dalih spiritualitas.
Warga dan pengelola Gunung Padang bereaksi keras.
Tokoh adat setempat, Ki Maman Suryadi, menyesalkan kejadian tersebut. Ia menyebut tindakan itu sebagai bentuk pelanggaran terhadap norma budaya dan spiritual masyarakat sekitar.
Lorem Ipsum has been the industry\’s standard dummy text ever since the 1500s.
“Gunung Padang bukan tempat uji coba ritual pribadi. Ini situs sejarah yang sakral. Kami mohon semua pihak menjaga kesuciannya,” ujar Ki Maman kepada wartawan, Selasa (30/7).
Situs Gunung Padang selama ini dikenal sebagai lokasi penting dalam sejarah arkeologi Indonesia. Banyak peneliti meyakini struktur batu-batu besar yang tertata rapi itu lebih tua dari piramida Mesir. Selain nilai historis, kawasan ini juga diyakini memiliki energi spiritual tinggi yang dihormati masyarakat adat.
Namun, dengan popularitasnya yang makin meningkat di media sosial, banyak wisatawan datang tanpa memahami tata krama atau nilai-nilai lokal.
Kepala UPTD Cagar Budaya Jabar, Ahmad Ginanjar, menyebutkan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi dengan kepolisian dan pemerintah daerah untuk mengusut pelaku ritual menyimpang tersebut. Peningkatan pengawasan di sekitar kawasan situs juga akan segera dilakukan.
“Kami mendukung penuh pelestarian budaya dan keterbukaan publik terhadap situs sejarah, tapi harus tetap dalam batas yang etis dan legal,” ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa warisan budaya bukan sekadar destinasi wisata, tapi juga cerminan identitas dan nilai-nilai luhur yang harus dijaga bersama.
