Bandung Barat, Harianjabar.com— Tiga pekerja migran asal Kabupaten Bandung Barat dilaporkan terjebak dalam konflik bersenjata di perbatasan Kamboja–Thailand. Mereka diduga menjadi korban penipuan kerja di luar negeri dan kini berada dalam kondisi memprihatinkan, tanpa akses komunikasi dan perlindungan hukum yang memadai.
Ketiga warga tersebut diketahui berangkat melalui jalur tidak resmi dengan iming-iming pekerjaan di sektor pariwisata dan layanan daring. Namun, setibanya di Kamboja, mereka justru diarahkan ke wilayah perbatasan dan diminta bekerja di pusat-pusat aktivitas daring ilegal.
Lorem Ipsum has been the industry\’s standard dummy text ever since the 1500s.
“Kami mendapat informasi dari keluarga korban yang kehilangan kontak sejak dua minggu lalu. Setelah ditelusuri, ternyata mereka berada di area konflik dan tidak bisa keluar,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung Barat, Senin (29/7).
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) untuk segera melakukan evakuasi. Pihak KBRI di Phnom Penh dan Kedutaan Besar RI di Bangkok juga telah diminta turun tangan.
Menurut pengakuan keluarga, para pekerja tersebut awalnya dijanjikan pekerjaan sebagai staf hotel, namun faktanya mereka dipaksa bekerja dalam jaringan situs perjudian daring di wilayah rawan konflik yang kini menjadi sasaran patroli militer.
“Anak saya sempat kirim pesan singkat, katanya mereka takut ditembak karena lokasi tempat kerjanya dekat dengan baku tembak. Setelah itu, tak ada kabar lagi,” ujar ibu salah satu korban sambil menahan tangis.
Pemerintah setempat mengimbau masyarakat agar tidak tergiur tawaran kerja luar negeri yang tidak jelas asal-usulnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Kamboja menjadi salah satu negara tujuan dengan kasus eksploitasi kerja migran yang meningkat.
