Bandung, HarianJabar.com — Seorang mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sekelompok orang pada Minggu malam (28/7). Peristiwa ini terjadi di kawasan Jalan Tamansari, Kota Bandung, tak jauh dari kampus Unisba, dan diduga dipicu oleh konflik asmara.
Korban berinisial RA (20), mahasiswa semester 5, menderita luka lebam di wajah dan tubuh, serta harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Aksi pengeroyokan tersebut sempat terekam kamera warga dan kini viral di media sosial, memicu kecaman publik.
www.service-ac.id
Dipancing Lewat Media Sosial
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, menjelaskan bahwa insiden berawal dari perselisihan pribadi antara RA dengan salah satu pelaku terkait hubungan dengan seorang perempuan. Konflik tersebut memanas setelah percakapan dan sindiran di media sosial berujung pada ajakan bertemu.
“Korban dipancing untuk datang ke lokasi dengan alasan menyelesaikan masalah secara baik-baik. Namun saat tiba di tempat, dia justru dikeroyok oleh lebih dari 10 orang,” ungkap Kombes Budi kepada wartawan, Senin (29/7).
Pelaku Sudah Teridentifikasi
Polisi telah mengantongi identitas beberapa pelaku pengeroyokan dan saat ini tengah melakukan pengejaran. Dua orang pelaku yang diduga sebagai provokator utama sudah diamankan untuk dimintai keterangan.
“Motifnya diduga kuat karena masalah asmara. Tapi kita juga dalami kemungkinan adanya unsur perencanaan,” tambah Budi.
Pihak Kampus Minta Proses Hukum Tegas
Menanggapi kejadian ini, pihak Universitas Islam Bandung menyampaikan keprihatinannya dan menegaskan akan mendukung penuh proses hukum.
“Kami tidak menoleransi tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun. Ini murni masalah pribadi dan di luar lingkungan kampus, tetapi kami tetap memberikan pendampingan kepada korban,” ujar Humas Unisba dalam pernyataan resminya.
Psikolog: Media Sosial Sering Picu Kekerasan Emosional
Menyoroti kasus ini, psikolog sosial dari Universitas Padjadjaran, Dr. Rina Marlina, menyebut media sosial kini sering menjadi pemicu konflik, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa.
“Konflik asmara yang diperpanjang di media sosial sering berakhir dengan kekerasan karena tidak ada ruang penyelesaian yang sehat,” kata Dr. Rina.
