Jakarta, HrianJabar.com – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) Budi Gunawan, angkat suara sekaligus turut mengawasi secara ketat proses hukum atas kasus tragis yang menimpa Prada Lucky Yauri, prajurit TNI yang meninggal dunia diduga akibat dianiaya oleh rekan-rekan sesama prajurit di lingkungan militer.
Kasus ini menjadi sorotan publik karena bukan hanya soal kekerasan dalam tubuh militer, tapi juga menyingkap adanya dugaan budaya kekerasan yang masih mengakar di lingkungan pendidikan dan pelatihan militer.
TNI Diingatkan Tegakkan Hukum Tanpa Pandang Bulu
Dalam pernyataannya, Budi Gunawan menegaskan bahwa tidak boleh ada toleransi terhadap praktik kekerasan, apalagi jika dilakukan oleh prajurit terhadap sesama. Menurutnya, institusi militer harus menjadi contoh penegakan hukum dan disiplin, bukan justru melanggarnya.
“Saya percaya Panglima TNI dan jajaran akan bersikap tegas. Semua proses hukum harus berjalan transparan dan akuntabel. Tidak boleh ada perlindungan terhadap pelaku,” ujar Budi Gunawan.
Ia juga menambahkan bahwa pengawasan ketat dari berbagai pihak, termasuk publik, media, dan lembaga negara, penting untuk memastikan keadilan ditegakkan.
Perwira Jadi Tersangka, 20 Prajurit Diperiksa
Seiring berjalannya penyidikan, tercatat lebih dari 20 prajurit telah diperiksa. Salah satu yang paling mencengangkan adalah fakta bahwa seorang perwira TNI turut menjadi tersangka. Dari hasil investigasi sementara, Prada Lucky diduga mengalami kekerasan fisik berupa keroyokan dengan tangan kosong yang dilakukan oleh beberapa seniornya.
Korban sempat menjalani perawatan medis namun tak tertolong. Luka-luka yang dialami Prada Lucky dinilai tidak wajar dan menunjukkan indikasi kekerasan berulang.

Publik Desak Reformasi Budaya Militer
Kasus ini membangkitkan kembali diskusi publik soal budaya kekerasan dan kekompakan semu di institusi militer, terutama dalam fase pendidikan dan pelatihan. Banyak pihak menilai bahwa disiplin dan mental baja tidak seharusnya dibangun dengan kekerasan fisik, melainkan melalui pendekatan profesional dan pembinaan yang manusiawi.
Lembaga perlindungan HAM serta pengamat militer mendesak agar kasus ini menjadi momentum reformasi sistem pembinaan prajurit.
Penutup: Semua Mata Tertuju pada TNI
Dengan sorotan publik yang sangat tinggi dan pengawasan dari tokoh sekelas Budi Gunawan, kasus ini diharapkan tidak hanya selesai dengan penetapan tersangka, tapi juga mengarah pada perubahan budaya dalam tubuh TNI. Apalagi, kepercayaan masyarakat terhadap institusi militer sangat ditentukan oleh transparansi dan keadilan dalam penegakan hukum internal.
“Kematian Prada Lucky adalah tragedi. Tapi jangan sampai menjadi tragedi kedua bila keadilan gagal ditegakkan,” kata salah satu aktivis HAM.
