Gaza, HarianJabar.com – Lima jurnalis yang bekerja untuk jaringan berita internasional Al Jazeera dilaporkan tewas dalam serangan udara yang terjadi di sekitar Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza City, pada awal pekan ini. Salah satu yang menjadi korban adalah Anas al-Sharif, jurnalis yang dikenal luas atas peliputan konfliknya yang mendalam di Jalur Gaza.
Serangan tersebut mendapat sorotan luas dari komunitas internasional, terutama karena para jurnalis berada dalam tenda yang diketahui digunakan sebagai pusat peliputan dan bukan target militer. Hingga kini, belum ada penyelidikan independen yang menyimpulkan penyebab pasti ledakan, namun Israel menyatakan bahwa salah satu korban memiliki kaitan dengan kelompok bersenjata. Klaim tersebut dibantah oleh pihak Al Jazeera, yang menyatakan bahwa semua korban adalah wartawan profesional.
Aliansi Jurnalis Internasional (IFJ) dan sejumlah negara menyerukan investigasi menyeluruh, mengingat korban adalah pekerja media yang memiliki perlindungan hukum internasional di zona konflik. “Kebebasan pers bukan sekadar hak, tetapi syarat utama bagi dunia yang adil,” ujar salah satu pernyataan resmi IFJ.
Suara yang Terputus, Narasi yang Terbengkalai
Anas al-Sharif adalah suara yang selama ini mewakili penderitaan warga sipil Gaza. Dalam pelaporan terakhirnya, ia menggambarkan dampak kemanusiaan dari perang, terutama pada anak-anak dan perempuan. Melalui akun media sosialnya, ia sempat menyampaikan kekhawatiran bahwa serangan bisa mengarah ke jurnalis. Beberapa jam kemudian, ia menjadi korban.
Kematian para jurnalis ini menandai tragedi ganda: hilangnya nyawa, dan terputusnya aliran informasi dari wilayah yang sangat membutuhkan perhatian dunia.

Washington DC – Pemerintahan Trump Umumkan Rencana Penertiban Tunawisma, Tuai Kritik Aktivis
Sementara itu, ribuan kilometer dari Gaza, isu kemanusiaan lainnya berkembang di Washington DC, Amerika Serikat. Mantan Presiden Donald Trump, yang kini kembali mencalonkan diri, mengumumkan rencana penertiban besar-besaran terhadap komunitas tunawisma di ibu kota AS.
Trump menyebut langkah ini sebagai “penataan kota”, dengan dalih keamanan dan kesehatan publik. Namun, kebijakan tersebut menuai protes dari berbagai kelompok advokasi dan pengamat HAM, yang menilai langkah ini sebagai bentuk kriminalisasi terhadap kemiskinan.
Menurut laporan Axios dan The Guardian, Garda Nasional disebut akan diterjunkan untuk mendukung relokasi paksa, meskipun belum ada kepastian soal tempat tinggal pengganti atau solusi jangka panjang.
“Masalah sosial tidak bisa diselesaikan dengan pemindahan paksa. Dibutuhkan kebijakan yang berpihak pada hak asasi manusia, bukan kekuatan semata,” ujar Direktur Koalisi Akomodasi Nasional, sebuah lembaga bantuan tunawisma di AS.
Refleksi: Antara Perang dan Pengusiran, Siapa yang Mendengar Suara Mereka?
Peristiwa di Gaza dan Washington DC menunjukkan dua wajah krisis kemanusiaan: satu terjadi dalam zona perang terbuka, lainnya dalam kehidupan sehari-hari di jantung negara demokrasi. Namun keduanya menyisakan pertanyaan serupa: di manakah suara mereka yang tak bersuara akan disalurkan, jika ruang peliputan dan ruang hidup mereka sama-sama disempitkan?
Kematian jurnalis dan pengusiran warga marjinal bukan sekadar berita—ini adalah pengingat bahwa di balik setiap kebijakan atau konflik, selalu ada manusia yang terdampak, dan tugas jurnalisme adalah memastikan mereka tidak diabaikan.
