Jakarta, HarianJabar.com 13 Agustus 2025 — Fakta baru terungkap dalam kasus kematian tragis Dea (24), seorang perempuan muda yang ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah kamar kos di kawasan Jakarta Selatan. Polisi mengonfirmasi bahwa korban kerap menerima ancaman pembunuhan sebelum akhirnya meregang nyawa secara mengenaskan.
Pihak keluarga dan teman dekat menyebut, Dea sempat menunjukkan pesan ancaman yang ia terima melalui media sosial dan pesan instan dari seseorang yang belum diketahui identitasnya. Ancaman itu diduga berkaitan dengan konflik pribadi yang hingga kini masih dalam pendalaman pihak kepolisian.
Ditemukan Tewas dengan Luka Parah
Jenazah Dea ditemukan pada Senin dini hari (11/8) dalam kondisi penuh luka tusukan di bagian dada dan perut. Tidak ditemukan tanda-tanda perlawanan di lokasi kejadian, namun polisi menduga pelaku mengenal korban dengan baik.

“Ini bukan kasus perampokan atau pembunuhan acak. Ada indikasi kuat bahwa korban mengenal pelaku,” ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan.
Ancaman Sudah Sering Diterima
Menurut sahabat dekat korban, Dea sudah beberapa kali mengungkapkan rasa takut akibat pesan-pesan bernada mengancam. Dalam beberapa tangkapan layar yang kini diamankan polisi, terdapat pesan seperti:
“Kamu pikir bisa sembunyi terus?”
“Tunggu saja waktumu habis.”
“Kamu akan menyesal sudah macam-macam.”
Pihak kepolisian juga sedang menelusuri apakah ancaman tersebut berasal dari mantan pasangan, rekan kerja, atau orang lain yang memiliki dendam pribadi terhadap korban.
Penyelidikan Fokus pada Jejak Digital dan CCTV
Tim forensik digital kini tengah menyisir data ponsel korban, media sosial, hingga rekaman CCTV sekitar lokasi untuk mengidentifikasi siapa saja yang terakhir berinteraksi dengan Dea.
“Kami tidak akan berhenti sampai pelaku tertangkap. Ini pembunuhan yang terencana,” tambah Kapolsek setempat.
Psikolog: Ancaman Psikis Sering Diabaikan
Kasus ini juga memunculkan diskusi luas tentang bahaya ancaman psikis yang sering dianggap sepele. Banyak korban kekerasan tidak melapor karena takut tidak dianggap serius.
“Ancaman pembunuhan — meskipun lewat pesan singkat — harus selalu ditanggapi dengan serius,” kata seorang psikolog forensik.
Keluarga Minta Keadilan
Keluarga Dea yang masih terpukul meminta aparat bertindak cepat menangkap pelaku. Mereka juga berharap masyarakat lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan yang sering tidak terlihat secara fisik.
“Anak kami sempat minta tolong, tapi tak banyak yang percaya… Sekarang dia sudah tiada.”
