Tel Aviv, HarianJabar.com 4 September 2025 – Semangat tempur sebagian prajurit cadangan Israel mulai goyah. Ratusan di antaranya secara terbuka menyatakan penolakan untuk kembali dikerahkan dalam serangan darat ke Gaza. Keputusan ini disebut didorong oleh kelelahan fisik, tekanan mental yang luar biasa, dan kekecewaan terhadap arah kebijakan militer maupun politik pemerintahan Netanyahu.
Dalam surat terbuka yang ditandatangani oleh lebih dari 400 prajurit cadangan, termasuk anggota unit elite dan teknisi angkatan udara, mereka menyatakan bahwa mereka “sudah cukup lelah berperang tanpa kejelasan arah moral dan visi damai.”

“Kami tidak lagi yakin pada misi ini. Kami bukan robot. Kami manusia dengan batasan,” tulis salah satu bagian dari pernyataan bersama, yang kini ramai dibahas media internasional.
Kondisi Psikologis Memburuk
Beberapa organisasi veteran perang dan psikolog militer mengonfirmasi bahwa kasus PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) di kalangan pasukan cadangan mengalami lonjakan signifikan sejak intensitas pertempuran di Gaza meningkat awal tahun ini.
“Mereka kembali ke rumah tapi tidak benar-benar pulih. Lalu dipanggil lagi. Ada yang mimpi buruk setiap malam, ada yang tak sanggup melihat berita perang,” ujar Dr. Eli Naor, psikolog klinis dari Tel Aviv Medical Center.
Laporan menyebutkan beberapa prajurit bahkan mengalami krisis moral, terutama setelah melihat dampak serangan terhadap warga sipil di Gaza. Sebagian menyebut bahwa “perang ini bukan lagi soal pertahanan, tapi soal kehilangan arah.”
Reaksi Pemerintah dan Militer
Pemerintah Israel belum memberikan tanggapan resmi terhadap penolakan massal ini. Namun, sumber militer menyebut bahwa langkah para prajurit tersebut “bisa berdampak pada kesiapan tempur”, terutama jika eskalasi konflik meningkat dalam waktu dekat.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali mengulangi narasi “keamanan nasional di atas segalanya” dalam pidato singkatnya, tanpa merespons langsung aksi protes diam-diam dari internal militernya sendiri.
Masyarakat Sipil: Terbelah
Aksi penolakan ini memicu reaksi beragam. Sebagian masyarakat Israel memuji keberanian prajurit menyuarakan krisis mental mereka, sementara lainnya menganggap langkah itu sebagai bentuk “pengkhianatan terhadap negara”.
Di media sosial, tagar seperti #RefuseToServe dan #SoldiersSpeakOut menjadi trending, bersanding dengan narasi-narasi pro-perdamaian dan kritik terhadap perpanjangan konflik.
“Ini adalah sinyal penting bahwa bahkan mesin militer pun bisa retak karena tekanan moral. Pemerintah seharusnya mendengarkan, bukan hanya memerintah,” ujar Tamar Goldstein, aktivis perdamaian dan mantan perwira IDF.
Krisis Mental di Kalangan Tentara Cadangan Israel
- Lebih dari 400 prajurit cadangan menolak penugasan ulang ke Gaza.
- Lonjakan kasus PTSD dan trauma pasca-tugas meningkat hingga 40% sejak awal tahun.
- Sebagian mengalami depresi berat dan menyuarakan krisis kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.
Saat Mesin Perang Mulai Menolak Bergerak
Penolakan ini menjadi catatan penting dalam sejarah militer Israel modern — bahwa bahkan pasukan terlatih pun memiliki batas mental dan moral. Di balik seragam dan senapan, mereka tetap manusia. Lelah. Terluka. Dan berhak mempertanyakan.
