Caracas, HarianJabar.com 5 September 2025 – Pemerintah Venezuela mengumumkan perluasan skala besar terhadap kekuatan Milisi Nasional Rakyat sebagai bagian dari strategi pertahanan negara. Kebijakan ini datang di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik dan tekanan militer dari Amerika Serikat, yang menuduh Venezuela melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan mendukung aktivitas yang mengancam stabilitas regional.
Langkah ini memicu perhatian internasional, terutama karena milisi rakyat dianggap sebagai instrumen kekuatan sipil bersenjata yang dikontrol langsung oleh pemerintah.

Penguatan Milisi: Strategi Bertahan atau Provokasi?
Presiden Nicolás Maduro dalam pidato publiknya menyatakan bahwa perluasan milisi adalah bentuk “perlawanan rakyat terhadap imperialisme asing.”
“Kami tidak akan tunduk. Setiap warga adalah tentara yang siap mempertahankan kemerdekaan tanah air,” ujar Maduro di hadapan ribuan relawan milisi baru di Caracas.
Milisi ini, yang kini beranggotakan lebih dari 4 juta orang, terdiri dari warga sipil yang dilatih militer secara terbatas dan dipersenjatai untuk membantu angkatan bersenjata reguler dalam situasi darurat atau invasi.
Respons Amerika Serikat dan Reaksi Dunia
Pemerintah AS melalui Departemen Luar Negeri menyatakan keprihatinan atas langkah Venezuela, menyebutnya sebagai “upaya militerisasi sipil yang dapat memperparah pelanggaran hak asasi manusia dan menekan oposisi politik.”
Negara-negara tetangga seperti Kolombia dan Brasil juga menyatakan kesiagaan militer, mengingat ketegangan di kawasan berpotensi meningkat.
Namun, Rusia dan Tiongkok menyatakan dukungan atas “hak Venezuela mempertahankan kedaulatan nasionalnya.”
Antara Pertahanan dan Propaganda
Para analis menilai ekspansi milisi ini tidak hanya bermotif pertahanan, tetapi juga sebagai strategi politik dalam negeri untuk memperkuat kontrol pemerintah terhadap populasi.
“Maduro menggunakan ancaman eksternal sebagai alat untuk konsolidasi internal. Milisi bukan hanya kekuatan fisik, tetapi simbol politik,” ujar Jorge Díaz, pengamat politik Amerika Latin dari Universitas Buenos Aires.
Beberapa pihak juga menyuarakan kekhawatiran bahwa kehadiran milisi bersenjata yang tidak terlatih secara profesional dapat memicu pelanggaran hukum atau konflik sipil.
Dampak terhadap Stabilitas Regional
Langkah Venezuela berpotensi mengganggu stabilitas geopolitik Amerika Selatan. Peningkatan militerisasi dapat memicu perlombaan senjata kecil di kawasan dan menghambat upaya diplomatik.
Namun di sisi lain, kebijakan ini juga mencerminkan bagaimana negara-negara berkembang mencoba mencari model pertahanan alternatif di tengah ketimpangan kekuatan global.
Ekspansi milisi nasional Venezuela adalah cermin dari dinamika global yang semakin kompleks — antara upaya mempertahankan kedaulatan dan tekanan dari kekuatan internasional. Dunia menanti apakah langkah ini akan membawa kestabilan nasional atau justru memperbesar potensi konflik kawasan.
