Roma, HarianJabar.com – Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menegaskan tidak akan mengeluarkan permintaan maaf terkait tuduhan bahwa salah satu pemain tim nasional Italia menghina Israel dalam sebuah laga internasional. Kasus ini memicu perdebatan panas di ranah olahraga dan politik, terutama karena isu Israel kerap menjadi sensitif di panggung global.

Insiden bermula ketika dalam pertandingan kualifikasi (sebutkan ajang bila sudah pasti, misalnya Euro 2026), pemain Italia diduga melakukan gestur yang dianggap merendahkan Israel. Tuduhan itu segera viral di media sosial, memancing reaksi keras dari sejumlah kelompok pro-Israel.
Namun, FIGC menolak anggapan tersebut. Melalui pernyataan resminya, federasi menilai tuduhan itu tidak berdasar dan menyebut bahwa pemain bersangkutan tidak melakukan tindakan yang berniat menghina.
“Kami berdiri mendukung pemain kami. Tidak ada alasan untuk meminta maaf atas sesuatu yang tidak dilakukan,” tegas pernyataan FIGC.
Sementara itu, perwakilan Israel menilai FIGC seharusnya lebih bijak dengan menunjukkan sikap solidaritas. Mereka beranggapan, meskipun tidak ada niat, sikap yang menyinggung tetap harus disikapi dengan permintaan maaf resmi.
Kontroversi ini menyoroti semakin kaburnya batas antara olahraga dan politik. Sepak bola, yang selama ini dipandang sebagai ajang pemersatu bangsa, kembali menjadi panggung perdebatan geopolitik.
Pengamat sepak bola Eropa menyebut, kasus ini berpotensi memengaruhi citra tim Italia di kancah internasional. Namun, di sisi lain, sikap FIGC dianggap sebagai upaya menjaga marwah pemain dan institusi agar tidak mudah tunduk pada tekanan politik.
Hingga kini, FIFA maupun UEFA belum memberikan komentar resmi terkait polemik ini.
