Washington, HarianJabar.com – Persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan China kini tidak hanya berlangsung di bidang ekonomi, militer, maupun teknologi digital. Perlombaan menuju luar angkasa juga semakin memperlihatkan rivalitas kedua negara. Pemerintah AS secara terbuka menyebut China sebagai “saingan tangguh” dalam eksplorasi dan dominasi ruang angkasa.

Rivalitas Lanjutan Perang Dingin Baru
Sejak era Perang Dingin, AS sudah terbiasa bersaing di luar angkasa, terutama melawan Uni Soviet. Kini, lebih dari 50 tahun setelah misi Apollo 11 berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan, rivalitas itu kembali hidup—kali ini dengan China.
Pejabat NASA menegaskan bahwa kemajuan pesat program luar angkasa China tidak bisa dianggap remeh. Beijing berhasil meluncurkan stasiun luar angkasa Tiangong, mengirim misi tak berawak ke Bulan dan Mars, serta merencanakan misi pendaratan berawak ke Bulan pada dekade mendatang.
Fokus AS: Bulan dan Mars
AS, melalui program Artemis, menargetkan kembali mendaratkan astronot ke Bulan pada pertengahan dekade ini, sekaligus mempersiapkan pijakan menuju misi Mars. NASA bekerja sama dengan perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin untuk mempercepat inovasi teknologi roket, sistem transportasi, hingga penelitian di luar angkasa.
Namun, dengan perkembangan cepat program luar angkasa China, ada kekhawatiran bahwa Beijing bisa mendahului AS dalam klaim teknologi dan kehadiran strategis di luar angkasa.
China Tak Mau Kalah
China terus memperluas ambisi kosmiknya. Selain rencana pendaratan di Bulan, Beijing juga berencana membangun basis penelitian permanen di permukaan Bulan bersama Rusia. Program itu dinilai dapat memperkuat posisi China dalam penelitian ilmiah sekaligus simbol kekuatan geopolitik.
Para analis menilai, bila China berhasil lebih dulu menancapkan tonggak sejarah penting seperti basis di Bulan, hal itu bisa mengubah peta kekuatan global di bidang teknologi dan sains.
Persaingan Bukan Sekadar Sains
Bagi banyak pengamat, persaingan luar angkasa ini bukan semata-mata soal ilmu pengetahuan, melainkan juga tentang prestise, kekuasaan, dan dominasi global. Negara yang menguasai luar angkasa diyakini akan memiliki keunggulan besar, baik dalam hal teknologi militer, komunikasi, hingga ekonomi berbasis teknologi masa depan.
“Ini bukan hanya tentang siapa yang pertama sampai di Bulan atau Mars. Ini tentang siapa yang akan mengatur aturan main di luar angkasa di masa depan,” ujar seorang pakar geopolitik internasional.
Dengan Amerika Serikat menyebut China sebagai “saingan tangguh” dalam perlombaan luar angkasa, jelas bahwa dekade mendatang akan menjadi babak baru dalam kompetisi global. Pertanyaannya, siapa yang akan lebih dulu menancapkan dominasinya di luar Bumi: AS yang punya pengalaman panjang atau China yang datang dengan ambisi segar?
